Bite’ di Toraja Selain Untuk Menjaga Plasma Nutfah. Bite’ Juga Bisa Menjadi Sumber Pangan Alternatif Ditengah Pandemi COVID-19

Bite’ di Toraja Selain Untuk Menjaga Plasma Nutfah. Bite’ Juga Bisa Menjadi Sumber Pangan Alternatif Ditengah Pandemi COVID-19

R
Polbangtan
Redaksi

Tim Redaksi

Bite’ adalah jenis talas lokal Toraja yang merupakan tumbuhan endemik Toraja, yang juga sebagai salah satu sumber pangan lokal masyarakat zaman dahulu. Namun saat ini, tanamanya tersebut mulai langka dan jarang ditemui.

Nama Bite’ sendiri adalah nama lokal Toraja karena sudah terdaftar di Kementerian Pertanian RI sebagai salah satu varietas talas unggul lokal nasional dari Toraja.

Bite’ memiliki rasa yang lebih empuk dan enak dibanding jenis talas pada umumnya. Tanaman ini juga memiliki kasiat mencegah penyakit jantung dan diabetes. Bite’ juga tahan disimpan dalam waktu yang lama sebagai bahan cadangan makanan jangka panjang serta dijadikan bahan dasar pembuatan kosmetik.

Dengan segudang manfaat yang dimiliki, Dinas Pertanian Tana Toraja mulai serius membudidayakan tanaman langkah tersebut dengan menggandeng kelompok tani. Salah satunya adalah kelompok Tani Malasoi’ di Lembang Ullin, Kecamatan Rembon.

Di Lembang Ullin awal juli 2019 lalu, Dinas Pertanian membuka kebun percontohan budidaya Bite’ didampingi langsung oleh penyuluh pertanian dari Sa’dan, Toraja Utara, yang juga adalah petani Bite’.

Baca Juga

Dan pada Sabtu, 4 April 2020 atau 9 bulan setelah ditanam, Dinas Pertanian akhirnya menggelar panen perdana Bite’ dengan hasil panen yang cukup memuaskan. Satu biji umbi bite’ yang ditanam menghasilkan umbi antara 60 sampai 125 umbi perpohon. Hasil ini disebut sangat baik dibanding Bite’ pada umumnya yang tumbuh di kampung-kampung yang hanya menghasilkan umbi 20 sampai 30 umbi perpohonnya.

Tiap pohon bite’ yang ditanam menghasilkan umbi antara 2 sampai 3 kilogram. Sehingga dari total 50 kilogram Bite’ yang ditanam Dinas Pertanian, hasil panen yang didapatkan mencapai 20 ton.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tana Toraja, Salvius Pasang, mengatakan tumbuhan Bite’ sebenarnya hanya 6 bulan tanam sudah bisa panen, namun Bite’ yang ditanam Dinas Pertanian ini sempat kena kemarau sehingga harus menunggu musim hujan agar pertumbuhan bagus dan bisa dipanen di bulan kesembilan.

Salvius mengatakan, hasil panen Bite’ dari kebun percontohan ini akan dijadikan bibit untuk dikembangkan kembali, hal ini dilakukan karena selama ini Dinas Pertanian sangat susah untuk mendapatkan bibit bite’ karena sudah sangat jarang masyarakat yang membudidayakan Bite’.

“Budidaya Bite’ ini kita lakukan selain untuk menjaga plasma nutfah. Bite’ ini juga bisa menjadi sumber pangan alternatif bagi masyarakat apalagi ditengah wabah Korona yang membutuhkan ketersediaan pangan,” kata Salvius.

“Tidak menutup kemungkinan, jika Bite’ di Toraja bisa berkembang dengan baik, tak hanya sebagai bahan untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal namun memiliki potensi sebagai produk ekspor,” pungkas Salvius. (*)/Penulis/Foto: Arsyad Parende

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.