Terkini.id, Jakarta – Beberapa hari lalu, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigadir Jenderal Ahmad Nurwakid mengungkapkan soal lima ciri-ciri penceramah radikal.
Di mana, menurutnya BNPT sudah menegaskan bahwa persoalan radikalisme itu menjadi perhatian yang sangat serius.
Hal itu dikarenakan radikalisme merupakan paham yang sangat memiliki potensi untuk menjiwai aksi-aksi terorisme.
Terlebih paham radikalisme tersebut selalu memanipulasi data dan mempolitisasi, sehingga ia meyakini bahwa hal itu menuju tahapan akhir dari terorisme.
Melihat hal tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis turut menaggapi melalui sebuah cuitan di media sosialnya. Senin, 7 Maret 2022.
- Larangan Jilbab Paskibraka oleh BPIP, MUI: Kebijakan yang Tak Beradab
- Apresiasi Unjuk Rasa yang Dilakukan Banser, Cholil Nafis: Sudah Keterlaluan Tingkahnya dan Menghinanya
- Prof Budi Sebut Mahasiswi Manusia Gurun, Cholil Nafis: Apa yang Merasuki Sang Profesor Itu!
- Stadion JIS Rencana Dipakai Shalat Idul Fitri 1443 H, Bakal Dihadiri Anies Baswedan
- Pendeta Saifudin Minta Menag Hapus 300 Ayat Al-Quran, Aziz Yanuar: Kegoblokan, Jangan Ditularkan Kepada yang Lain!
Dalam cuitannya, Kiai Cholil mengatakan masyarakat tentu tidak suka dengan penceramah yang membangkang terhadap negara dan Pancasila.
“Kita (MUI) tak suka penceramah yang membangkang negara dan anti-pancasila,” katanya melalui akunnya di Twitter @cholilnafis.
Dia menyebutkan hal itu sudah pasti melanggar hukum Islam dan hukum negara yang berlaku.
“Itu pasti melanggar hukum Islam dan hukum nasional kita, tetapi jangan sampai yang amar ma’ruf dan nahi munkar karena mengkritik pemerintah lalu disebut radikal,” lanjutnya.
Sebelumnya, menurut Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigadir Jenderal Ahmad Nurwakid persoalan radikalisme itu menjadi perhatian yang sangat serius.
Terlebih paham radikalisme tersebut selalu memanipulasi data dan mempolitisasi, sehingga ia meyakini bahwa hal itu menuju tahapan akhir dari terorisme.
“Sejak awal kami sudah menegaskan bahwa persoalan radikalisme harus menjadi perhatian sejak dini karena sejatinya radikalisme adalah paham yang menjiwai aksi terorisme,” ujarnya.
Lanjut “Radikalisme merupakan sebuah proses tahapan menuju terorisme yang selalu memanipulasi dan mempolitisasi,” sambungnya.
Guna mencegah masuknya paham-paham radikalisme, Ahmad Nurwakhid pun mengungkap lima ciri dari penceramah radikal yang selama ini kerap meresahkan masyarakat.
Menurutnya, cara termudah untuk mengenali penceramah radikal itu dilihat dari setiap ceramahnya yang selalu membenturkan persoalan keagamaan dengan kebangsaan.
“Mengenali ciri-ciri penceramah jangan terjebak pada tampilan, tetapi isi ceramah dan cara pandang mereka dalam melihat persoalan keagamaan yang selalu dibenturkan dengan wawasan kebangsaan, kebudayaan, dan keragaman,” terangnya.
Berikut lima ciri dari penceramah radikal yang diuraikan Ahmad Nurwakhid antara lain:
- Mengajarkan ajaran yang anti Pancasila dan pro ideologi khilafah transnasional.
- Mengajarkan paham takfiri yang mengkafirkan pihak lain yang berbeda paham maupun berbeda agama.
- Menanamkan sikap anti pemimpin atau pemerintah yang sah dengan sikap membenci dan membangun ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan maupun negara melalui propaganda fitnah, adu domba, ujaran kebencian dan sebaran hoaks.
- Memiliki sikap eksklusif terhadap lingkungan maupun perubahan serta intoleransi terhadap perbedaan maupun keragaman.
- Memiliki pandangan anti budaya atau anti kearifan lokal keagamaan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
