Masuk

Bu Risma Dicap Rasis karena Ancam PNS Malas Pindah ke Papua, Sujiwo Tejo Bereaksi

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Menteri Sosial Tri Rismaharani kembali menunjukkan kemarahannya kepada pegawai Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Wyata Guna Bandung. 

Namun, kalimat kalimat yang dia lontarkan justru menjadi polemik lantaran dinilai merendahkan Papua.

Risma menyampaikan ancaman akan memindahkan pegawai Wyata Guna Bandung ke Papua.

Baca Juga: Ma’ruf Amin Perintahkan Menteri Agama dan Menteri Sosial Cegah Kekerasan Seksual di Panti Asuhan

Ucapan Risma dinilai merendahkan Papua. Ada juga yang berpendapat bahwa Risma rasis.

Kekesalan Risma berawal saat melihat pegawai Wyata Guna Bandung bersantai di ruangan. Pegawai Wyata Guna Bandung tak membantu mengurus dapur umum yang didirikan Kemensos.

“Rakyat lagi susah sekarang, tenaga-tenaga kesehatan semua susah, tapi semua teman-teman kayak priayi semua.

Baca Juga: Begini Cara Mendapat Bansos BLT BBM, Bisa Ajukan Diri Melalui Aplikasi Cek Bansos

Maunya duduk tempat dingin, enggak mau susah-susah. Ayolah kita peduli, jangan jadi priayi.

Semuanya polisi ada di jalan, semua jaga, teman-teman enak duduk di dalam. Di mana perasaan kalian,” ujar Risma dalam pernyataannya.

Risma menekankan agar pegawai Wyata Guna Bandung lebih aktif membantu.

Bahkan saking marahnya, Risma mengancam akan memindahkan PNS Kementerian Sosial yang bekerja di Wyata Guna Bandung ke Papua.

Baca Juga: Soal Tumpukan Bansos Presiden Jokowi, Anggota DPR RI: Mensos Terkesan Lepas Tanggungjawab

“Saya tidak mau lihat seperti ini lagi. Kalau seperti ini lagi, saya pindahkan semua ke Papua.

Saya enggak bisa pecat orang kalau nggak ada salah, tapi saya bisa pindahkan ke Papua. Jadi tolong yang peka,” ujar dia.

Ancama Risma memindahkan PNS Wyata Guna Bandung ke Papua justru menuai polemik.

Andi Arief berpendapat Risma telah merendahkan Papua.

Meski begitu, Andi Arief berharap ancaman Risma memindahkan PNS Wyata Guna Bandung ke Papua tak diperpanjang.

“Alam bawah sadar Ibu Risma merendahkan Papua. 

Tapi tak usah diperpanjang, mudah-mudahan tidak diulangi,” tulis Andi Arief di Twitter.

Aktivis HAM, Veronica Koman menyebut Bu Risma memang rasis usai pernyataan tersebut.

“Ga kaget. Bu Risma emang rasis sama Papua kok. 2 Desember 2018:
jajaran Bu Risma bersama Polri dan TNI mengeluarkan paksa seratus lebih mahasiswa Papua dari kota Surabaya sebagai syarat lepasnya 233 mahasiswa Papua yang ditangkap massal,” tulisnya.

Sementara itu Hinca Pandjaitan mempertanyakan kerja tim Risma.

Menurut Hinca, kesan dari ucapan Risma menempatkan Papua sebagai tempat untuk pegawai yang tidak becus bekerja.

“Waduh. Ini komunikasi publiknya harus dapat arahan dari Bapak Presiden.

Kalimat bu Risma seolah-olah menempatkan Papua sbg sasaran lokasi ASN yg tak becus?

Papua sedang butuh banyak SDM mumpuni bu. Jadi yg dikirim justru harus yg terbaik.

Kekeliruan ini mudah2an tak terulang.” tulis Hinca Pandjaitan.

Senada, Sudjiwo Tedjo juga mempertanyakan maksud ucapan Risma.

“Maaf, Bu Risma, bila berita ini benar, apakah Bu Risma tidak sedang merendahkan Papua?” tulis Sudjiwo Tedjo di Twitter dikutip via Tribunnews.

Mengutip dari Kompas.com, Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini atau yang karib disapa Risma, tampak tidak senang melihat upaya penyambutan kedatangannya di Balai Disabilitas Wyata Guna Bandung, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Selasa 13 Juli 2021.

Untuk diketahui, Risma sempat mengunjungi dapur umum Kementrian Sosial di Balai Disabilitas Wyata Guna Bandung.

Ketika sibuk menata dapur umum agar lebih efektif dan cepat memasak, Risma melihat ada keyboard atau organ tunggal lengkap dengan speaker aktif.

Risma pun meminta agar organ tunggal tersebut dibereskan.

Di depan anak buahnya, Risma pun menegur Kepala Balai Disabilitas Wyata Guna Bandung, Sudarsono. 
“Ini lagi bapak, ngapain aku disiapi musik segala, mau tak tendang apa. Emang aku kesenengan apa ke sini,” bentak Risma, Selasa siang.

Selain itu, Risma kembali menyinggung soal dapur umum yang kekurangan alat masak hanya untuk merebus telur saja, belum untuk memasak makanan siap saji.

“Bisa jam 12 malam baru selesai masak telur,” tuturnya.

Tidak hanya kekurangan peralatan memasak, Risma geram lantaran dapur umum yang sudah dibuat kekurangan personel, sementara banyak pegawai Balai Disabilitas Wyata Guna Bandung yang masih berada di dalam kantor, tidak ikut membantu operasional di dapur umum.

“Tolong ya, teman teman. Saat ini kondisinya dan situasinya kritis. Ini Kementerian Sosial jangan misah-misahkan diri. Ini malah tidak ada yang nongol,” kata Risma dengan nada tinggi, Selasa siang.

Risma meminta kepada para pegawai Balai Disabilitas Wyata Guna untuk lebih peka dan membantu di dapur umum, bukan berleha-leha di dalam kantor ber-AC.

“Rakyat lagi susah sekarang, tenaga-tenaga kesehatan semua susah, tapi semua teman-teman kayak priyayi semua, maunya duduk tempat dingin, nggak mau susah-susah.

Ayolah kita peduli, jangan jadi priyayi. Semuanya polisi ada di jalan, semua jaga, teman teman enak duduk di dalam. Di mana perasaan kalian,” ujar Risma

Untuk diketahui, dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kementerian Sosial terus memastikan masyarakat terdampak pandemi Covid-19 tercukupi kebutuhan pokoknya khususnya selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, nelalui aktivasi dapur umum.

Kemensos memasok makanan siap saji dan nutrisi berupa telur matang kepada masyarakat.

Ada dua dapur umum Kemensos yang menyediakan makanan siap saji dan juga telur matang, yakni dapur umum Kemensos di TMPNU Kalibata Jakarta, dan _Convention Hall_ di Surabaya.

Lima dapur umum Kemensos lainnya memasok telur matang. Yakni dapur umum Balai Wyata Guna Bandung, Balai Prof. DR. Soeharso Surakarta, Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional III Yogyakarta, Balai Ciung Wanara Cibinong Bogor, dan Balai Mahatmiya Tabanan Bali.

Kunjungan yang dilakukan Risma ke dapur umum Wyata Guna Bandung adalah untuk memastikan bahwa masyarakat, para tenaga kesehatan, para petugas pelaksana lapangan PPKM Darurat seperti TNI-Polri, Satpol PP, Dishub, dan lainnya, cukup mendapatkan kebutuhan makanan dan nutrisi.

“Mereka ini kan petugas lapangan dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jadi resikonya besar. Mereka harus sehat dan cukup nutrisi,” jelasnya.

Dapur umum Kemensos di Balai Wyata Guna Bandung menyalurkan 4.686 butir (2.343 paket).

Paket telur dikirimkan kepada tenaga kesehatan di RSUD Kota Bandung sebanyak 1.006 butir (503 paket), RS Bhayangkara sebanyak 960 butir (480 paket), RS Hasan Sadikin sebanyak 1.200 butir (600 paket), dan RS Al Ikhsan sebanyak 1.076 butir (538 paket).

Paket dikirim juga untuk RS Muhammadiyah sebanyak 100 butir (50 paket), warga isoman di Balai Wyata Guna sebanyak 34 butir (17 paket), warga isoman Cibeureum sebanyak 70 butir (35 butir), personel linmas Kelurahan Pasir Kaliki sebanyak 20 butir (10 paket), Tim TAGANA, Tim Wyata Guna dan Penerima Pelayanan sebanyak 80 butir (40 paket), serta aparat Polsek Cicendo sebanyak 140 butir (70 paket).