Bulukumba, Kota yang Tumbuh Menghapus Jejaknya Sendiri

SUDAH hampir sebulan saya berjalan bersama kawan dan menyibak lembar sejarah-sejarah kecil dari sebuah narasi besar, tapi lembaran itu tak kunjung bisa kami temukan.

Bulukumba, dalam rentang waktu 30 tahun ingatan saya, sungguh mengalami banyak kemajuan. Tapi, sayangnya, di balik kemajuan itu, kehilangan narasi narasi besarnya soal catatan dan ingatan. Malah, boleh disebut bahwa dia menghapus jejaknya sendiri.

Tak ada lagi desau angin di sela-sela perbukitan yang ditumbuhi pinus di Tanete atau pohon kayu Dande menjulang di Tanah Beru. Bahkan, tak ada lagi nelayan (Pagae) yang berburu ikan di Laut Flores yang masih disaksikan dari tepi pantai di pagi hari saat hari libur.

Baca Juga: PC IMM Bulukumba Resmikan Desa Binaan Kedua

Telur tuing-tuing di pantai Kasuso (Teluk Bone) kini menjadi pelengkap cerita legenda saja. Dia menjadi sulit ditemukan rupanya. Nelayan yang tersisa pun mungkin sisa pada hitungan jari.

Sejarah kantor Bupati dan DPRDnya serta orang yang pernah menjadi pejabat tertingginya pun tak ada catatan. Bahkan mungkin pada kantor Arsip dan Perpustakaan Daerahnya sekalipun.

Baca Juga: HUT Ke-61 Bulukumba, Gubernur Sulsel Resmikan Gedung Baru RSUD Sultan...

Nama-nama yang legendaris sebagai Panrita Lopi seperti Daeng Marinnyo pun seolah tanpa bekas. Seperti nama Puang Hammado yang sakti dalam urusan perahu. Puang Dosa di Herlang sebagai Maestro Gandrang Jong tak pernah tercatatkan.

Pencetus kata Bulukumba Berlayar yang menggantian Motto Bulukumba Berlian pun tak pernah dikenang lagi. Pencetus ide Bumi Panrita Lopi pun tak memiliki catatan.

Bahkan, Bupati pertama yang bernama Andi Patarai dan Andi Bakrie Tandaramang seolah tak ada jejaknya. Andi Kube Dauda pun mengalami nasib yang sama.

Baca Juga: HUT Ke-61 Bulukumba, Menjadi Momentum Perpisahan Sukri-Tommy

Dengan karyanya, Kita masih membaca nama-nama dan sejarah sebuah kota. Bahkan sebuah desa sekali pun. Tapi, rupanya itu tidak berlaku di Bulukumba. Dia tumbuh dan menghapus jejaknya sendiri.

Bukankah sebaiknya nama-nama pembesar masa lalu yang bersejarah dan berjasa pada Bulukumba sejak 1960 itu sebaiknya dijadikan nama jalan? Karena foto pada dinding hanya menjelaskan gambar dan nama. Disimak orang tertentu saja. Jika pada nama jalan, dia akan selalu dikenang orang lewat.

Di Kampus Unhas, ada Aula Prof Mattulada (asal Bulukumba). Di tanah kelahirannya, dia sama sekali tidak ada ruang untuk ditoleh sebagai seorang yang berjasa bagi Bulukumba, bahkan sejak zaman perjuangan kemerdekaan.

Kita terus tumbuh seiring gedung sarang walet di dalam Kota Bulukumba. Bersamaan dengan itu, kota telah kehilangan banyak sejarah yang bermanfaat dari orang-orang yang telah berjasa dari masa ke masa (1960-2020).

Baca berikutnya
Dendam Ilmiah
Sponsored by adnow
Bagikan