Terkini, Makassar — Ketua Purna Paskibra Indonesia Kota Makassar, Muhammad Fahmi, menyampaikan pandangan terbuka terkait polemik yang berkembang dalam proses seleksi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Sebagai bagian dari Purna Paskibraka Indonesia (PPI) sekaligus penggiat pembinaan paskibra di tingkat sekolah dan kabupaten/kota, Fahmi menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan dilandasi kepentingan pribadi, melainkan bentuk kepedulian terhadap marwah pembinaan Paskibraka yang selama ini dijunjung dengan nilai persatuan, keadilan, dan nasionalisme.
“Penghormatan terhadap kewenangan penyelenggara tidak berarti menutup ruang kritik dan evaluasi. Kami memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar proses seleksi tetap berjalan sesuai nilai-nilai Pancasila, objektivitas, dan prinsip keadilan bagi seluruh putra-putri daerah,” ujar Fahmi kepada Makassar Terkini, Senin 25 Mei 2026.
Menurutnya, polemik yang muncul saat ini tidak lagi sekadar berkaitan dengan hasil seleksi, tetapi telah menyentuh persoalan mendasar seperti transparansi, akuntabilitas, dan etika penilaian.
Ia menyoroti berbagai pertanyaan yang berkembang di kalangan masyarakat, pembina sekolah, hingga pelatih paskibra terkait indikator penilaian, bobot setiap aspek, kewenangan pengambilan keputusan akhir, hingga mekanisme evaluasi terhadap tim penilai.
- Kelolaan Emas BSI Regional Makassar Tembus 163 Kilogram, Berat Transformasi Digital Bulion Bank
- Beasiswa Kalla 2026 Resmi Dibuka, Dukung Generasi Muda Indonesia dan Berdaya
- Dian Ayu Pratiwi Satria, Hadir di Tengah Warga Kalimporo, Reses Jadi Jembatan Aspirasi Nyata
- Lion Group Hadirkan Promo Cashback hingga Umrah lewat Event BookCabin Travel Fair
- Lewat Inovasi Digital, BNI Dorong UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Ekspor
“Seluruh proses berlangsung tertutup sehingga memunculkan ruang spekulasi dan rasa ketidakpercayaan,” katanya.
Fahmi juga menyinggung adanya dugaan oknum penilai yang menyerang pribadi peserta berdasarkan latar belakang etnis.
Menurutnya, apabila hal tersebut benar terjadi, maka tindakan itu bertentangan dengan nilai Pancasila dan semangat persatuan bangsa.
“Tidak boleh ada satu pun anak bangsa yang dipandang berbeda hanya karena garis keturunan tertentu. Paskibraka seharusnya menjadi simbol pemersatu generasi muda Indonesia, bukan ruang yang melahirkan diskriminasi ataupun stigma rasial,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa sejarah telah membuktikan nasionalisme tidak ditentukan oleh latar belakang etnis.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
