Bumiku Sayang Bumiku  ‘Malang’

Bumiku Sayang Bumiku  ‘Malang’

HZ
Ismi Hehamahua
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

KAPAN lagi kita berbincang

Dan berterus terang.

Kapan..?

Kapankah lagi..?

Kurasakan sunyi mencekam

Baca Juga

Hatipun tersiksa

Ada rindu untukmu !

Demikian penggalan lirik lagu yang diciptakan oleh Pance F Pondaag.

Dan lagu ini semakin terdengar kembali gaungnya, ramai beredar di jagat dunia maya , entah itu banyak yang kembali menampilkan karya nya lewat kanal YouTube hingga melalui tik tok .

Sepertinya , pesan yang tersirat dari lagu ini bagaikan penanda suasana hati para warga penduduk di berbagai belahan bumi. Pun di Indonesia tidak terkecuali.

Begitu kontras dengan perasaan manusia sebagai makhluk sosial tiba tiba harus dibatasi dikarenakan Pandemi Corona Virus Disease / Covid-19 yang mulai melanda di penghujung 2019.

Untuk mengantisipasi laju pergerakan disamping langkah pengobatan bagi pasien yang positif Covid-19, Kebijakan Work From Home pun dikeluarkan, Social Distancing , Physical Distancing hingga pembatasan ke skala lebih besar lagi melalui PSBB atau pembatasan sosial berskala besar nampaknya semakin sering terdengar dari hari ke hari di berbagai sudut wilayah Indonesia.

Begitu banyaknya hal kejadian yang terjadi di atas bumi ini.

Makin kontras dengan badai virus Covid-19 yang membuat sendi sendi kehidupan semakin melambat, menyasar ke berbagai sektor kehidupan.

Nampaknya bumi semakin ‘nelangsa’ melihat keadaan penduduknya yang lagi berjuang melawan Covid-19.

Saat 22 April bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, seyogyanya kita sedikit merenungkan apa yang telah kita berikan ke bumi yang kita pijak ini.

Bertutur tentang Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2020, bak membawa ingatan kembali akan segala yang telah kita perbuat dan bisa berimbas pada bumi yang kita sayangi ini.

Dilansir dari laman Earthday , Peringatan Hari Bumi pertama kali diselenggarakan di Amerika Serikat pada 22 April 1970. Kegiatan ini diprakarsai oleh seorang pecinta lingkungan hidup, Gaylord Nelson.

Hari Bumi, yang segera memicu perhatian media nasional, dan menyebar di seluruh negeri.

Hari Bumi telah mengilhami 20 juta orang Amerika – pada saat itu, 10% dari total populasi Amerika Serikat – untuk turun ke jalan, taman dan auditorium untuk berdemonstrasi menentang dampak pembangunan industri selama 150 tahun yang telah meninggalkan warisan yang semakin serius, dampak kesehatan manusia.

Kelompok-kelompok yang telah berjuang secara individual melawan tumpahan minyak, pabrik-pabrik pencemar dan pembangkit listrik, pembuangan limbah mentah, pembuangan racun, pestisida, jalan raya, hilangnya hutan belantara dan kepunahan satwa liar yang disatukan pada Hari Bumi sekitar nilai-nilai bersama yang sama.

Pada 22 April 1970, Gaylord Nelson mengadakan aksi turun ke jalan untuk berdemontrasi mengecam para perusak bumi. Majalah Time mencatat, diperkirakan saat itu terdapat sekitar 20 juta manusia yang memadati Fifth Avenue di New York, Amerika Serikat.

Aksi puncak ini akhirnya ditetapkan sebagai tonggak sejarah peringatan Hari Bumi. Sejak itu sampai sekarang, setiap 22 April diperingati sebagai Hari Bumi (Earth Day).

Selain Gaylord Nelson sebenarnya ada aktivits lingkungan lainnya yang juga memiliki ide yang sama untuk mengusung hari Bumi, yaitu John McConnell.

Pada Oktober 1969,saat acara konferensi UNESCO di San Francisco, dia mengajukan proposal hari libur sedunia dalam rangka merayakan “Kehidupan dan Keindahan Bumi”.Sambil merayakannya, John bermaksud mengajukan “Hari Bumi” (Earth Day) pertama pada 21 Maret 1970.

Alasan John menggunakan tanggal tersebut karena itu merupakan hari pertama musim semi di belahan bumi Utara. Tujuannya adalah untuk mengingatkan umat manusia di dunia betapa pentingnya melestarikan dan memperbaharui ekologi yang mengancam kehidupan bumi.

Untuk di Amerika Serikat nama Gaylord Nelson dan John McConnell, cukup dikenal .

Namun demikian apakah kita juga masih tetap mengenal akan kearifan lokal di Indonesia , Jauh sebelum era 1970 di Amerika , Bangsa Indonesia juga mempunyai beragam dimensi kearifan lokalnya.

Indonesia adalah Negara Kepulauan dengan jumlah pulau sekitar 17.504 yang masuk dalam wilayah kedaulatan NKRI.

Dengan kawasan archipelago yang diapit dengan samudera besar lautan India dan lautan Pasifik , serta dua benuayakni Asia dan Australia.

Negara tercinta kita ini juga terletak di lintas khatulistiwa dengan musim yang ada 2 (dua) yakni musim penghujan dan kemarau.

Nusantara kita juga memiliki lempeng bumi Asia Australia dan Pasifik sehingga zona the ring off fire atau jalur cincin api ada mengelilingi negara kita, yang sesekali aktif mengeluarkan energi gempa tektonik atau vulkanik.

Memiliki berbagai macam ekosistem keanekaragaman hayati flora dan fauna yang eksotis. Begitu sayang untuk ditelantarkan.

Serta yang paling utama, kita memiliki berbagai macam suku bangsa , budaya dan bahasa dan adat istiadat , hal ini semakin memperkuat khazanah kita sebagai Bangsa yang besar dan beradab.

Tanah tumpah darah kita ini juga mengakui Bahwa tanah airnya sebagai ‘Ibu Pertiwi’. Maka sudah seyogyanya kita sebagai anak bangsa menjaga Bumi Indonesia kita ini dengan harapan agar Bumi ini dapat dinikmati oleh anak cucu kita, generasi penerus Bangsa .

Semoga kearifan Lingkungan tidak rapuh seiring dengan bertambahnya laju jumlah penduduk yang berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan dan kemajuan teknologi yang memungkinkan manusia untuk mencari sumber yang baru.

Walaupun Pandemi Corona Virus Disease/Covid-19 telah menyebar di berbagai belahan dunia, kita tetap optimis badai virus ini cepat berlalu.

Hingga kita dapat bercengkrama kembali sebagai makhluk sosial yang peduli akan sesama dan alam semesta.

Hari bumi bukan ‘sekedar’ diperingati dengan ‘kata kata’ tetapi lewat ‘aksi nyata’ .

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.