Terkini.id, Makassar – Peringatan Hari Bumi disambut dengan aksi dari WALHI Sulawesi Selatan dan Komunitas Green Youth Movement di Car Free Day Boulevard, Kota Makassar.
Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup dan alam, aksi tersebut digelar.
Kepala Departemen Eksternal WALHI Sulawesi Selatan, Rahmat Kottir, mengungkapkan bahwa krisis iklim yang sedang terjadi disebabkan oleh eksploitasi besar-besaran, seperti kegiatan pertambangan nikel yang menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah.
“Dalam konteks Sulawesi Selatan, ekspansi pertambangan nikel mengancam ekosistem hutan hujan yang kaya akan biodiversitas. Dampaknya termasuk kerusakan habitat, kehilangan keanekaragaman hayati, dan dampak negatif terhadap masyarakat lokal yang bergantung pada hutan untuk kehidupan dan mata pencaharian mereka,” ungkap Rahmat Kottir.
Zulfaningsih HS, Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Esensial WALHI Sulawesi Selatan, menyoroti program hilirisasi yang digaungkan oleh pemerintah. Menurutnya, ambisi hilirisasi nikel tidak mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.
- MAF Polbangtan Kementa Vol. 7 Edisi 25 Dorong Transformasi Pengendalian OPT Modern untuk Produktivitas Pertanian Nasional
- Yayasan AHM Berikan Penghargaan kepada Tiga Bengkel Binaan Berprestasi
- Perkuat Budaya Keselamatan Laboratorium, Polbangtan Kementan Gelar Workshop Pengelolaan Limbah B3
- New Honda BeAT Tampil Lebih Ekspresif dengan Warna dan Striping Baru
- Hyundai Urip Sumoharjo Hadirkan Promo Menarik New CRETA hingga Akhir Juni, Cashback dan Bunga 0 Persen
“Hilirisasi justru meningkatkan ancaman terhadap lingkungan karena bertambahnya konsesi tambang nikel dan pembangunan smelter yang masif, menyebabkan kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan peningkatan angka kemiskinan di Sulawesi,” jelas Zulfaningsih HS.
Dalam rangka peringatan Hari Bumi, WALHI Sulawesi Selatan dan Green Youth Movement secara khusus menolak rencana ekspansi tambang nikel PT Vale Indonesia di blok Tanamalia, Kabupaten Luwu Timur.
Meskipun Sulawesi memiliki cadangan nikel yang besar dan dianggap sebagai modal dunia untuk sistem energi rendah karbon, upaya tersebut menimbulkan dilema yang serius.
“Pembangunan tersebut mengancam hutan hujan Sulawesi, yang menjadi target ekspansi pertambangan nikel. Konsesi tambang nikel yang semakin banyak dari pemerintah mengancam hutan hujan Sulawesi,” tutup Zulfaningsih HS.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
