Terkini.id, Jakarta – Beredar sebuah klaim di media sosial yang menyebut kasus Covid-19 di Jakarta menurun pasca unjuk rasa beberapa waktu lalu.
Klaim tersebut diunggah pengguna Facebook Idhaar. Dia mengunggah tangkapan layar dari akun Twitter OposisiCerdas, yang mengklaim Covid-19 tidak ada di klaster unjuk rasa.
“Semakin Nyata.. CORONA Cuma Konspirasi ..Dan Hanya Alasan Untuk Bancakan Duit Rakyat.. Apa Kabar 900 Triliun Dana Corona..? Bahkan BPK Pun Tak Boleh Audit.,” tulis Idhaar.
Dalam unggahannya, Idhaar melampirkan foto tangkapan layar postingan akun Twiyyer OposisiCerdas.
“Patahkan Kecemasan Klaster Baru, Covid-19 Jakarta Justru Menurun Pasca Unjuk Rasa,” demikian narasi dalam foto itu.
- OJK Sulselbar Pacu Akselerasi Akses Keuangan Sektor Kakao di Sulawesi
- Makassar Tuan Rumah Rakernas II ASITA 2026, Wawali Aliyah Mustika Ajak Perkuat Kolaborasi Pariwisata
- Gubernur Sulsel Dorong Kabupaten/Kota Terapkan Sistem Manajemen Talenta Full bagi ASN
- SPMB Makassar 2026 Resmi Dibuka, Berikut Jadwal Lengkapnya
- Pemkot Makassar Perkuat UMKM Lewat Literasi dan Inklusi Keuangan TPAKD
Namun, berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Liputan6.com, Sabtu 31 Oktober 2020, hasil penelusuran terkait postingan itu mengarah ke situs satgas covid-19 dengan judul berita: “[SALAH] “TERNYATA SUDAH 10 hari PENDEMO tidak ada yang kena COVID 19””. Artikel itu dipublikasikan pada 18 Oktober 2020.
Artikel tersebut mengambil penjelasan dari Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito. Ia mengatakan, ada 34 dari 1.192 demonstran reaktif di DKI Jakarta.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpupkan klaim yang menyebut kasus Covid-19 menurun di DKI Jakarta pasca unjuk rasa adalah hoaks.
Faktanya, ada 34 dari 1.192 demonstran reaktif covid-19 di DKI Jakarta saat demo Omnibus Law UU Cipta Kerja.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
