China dan Rusia Semakin Dekat, Tapi Tidak Akan Saling Mendukung Secara Militer

China dan Rusia Semakin Dekat, Tapi Tidak Akan Saling Mendukung Secara Militer

R
Muhsin Hidayat
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Tekanan internasional yang terus menerpa mendorong China dan Rusia menjadi lebih dekat saat ini. Namun para analis politik berpendapat, hal tersebut belum tentu membuat keduanya saling mengirim dukungan militer.

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu secara virtual hari Rabu 15 Desember 2021. Itu terjadi setelah kedua negara mendapat tekanan internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

“Beijing dan Moskow menjalin hubungan yang lebih erat karena kedua pemerintah memandang kerja sama bilateral yang lebih dalam bermanfaat bagi kepentingan nasional masing-masing, dan bukan terutama karena kedekatan ideologis antara Xi dan Putin,” ucap Neil Thomas, seorang analis untuk China dan Asia Timur Laut di perusahaan konsultan Grup Eurasia.

Saat ini kelihatannya China maupun Rusia membagi diri dalam menyita perhatian politik AS. Moskow mengirim pasukan ke perbatasan dengan Ukraina di kawasan Eropa.

Sementara Beijing meningkatkan aktivitas militer dekat Taiwan di kawasan Indo-Pasifik.

Baca Juga

Tetapi diluar itu, kedua negara ini berhati-hati dalam mengambil tindakan militer lebih lanjut. Beijing memperkirakan apabila mengambil aksi militer terhadap Taiwan, Rusia tidak akan melakukan apa-apa. Kata Angela Stent, seorang profesor Universitas Georgetown di Washington.

Begitupun sebaliknya, apabila Rusia melakukan tindakan yang sama terhadap Ukraina.

“Saya pikir kedua belah pihak mengakui, Putin tahu, bahwa jika dia menginvasi Ukraina, China [tidak] akan mengirim bantuan militer,” ucapnya dikutip dari cnbc.com Kamis 16 Desember 2021.

Sebuah laporan resmi menggambarkan pertemuan virtual Rusia dan China berlangsung hangat. Dalam pertemuan tersebut Presiden Xi menantikan pertemuan langsung dengan Putin di Olimpiade Beijing pada Februari mendatang.

Sementara itu sebuah rilis dari kementerian luar negeri China menggambarkan hubungan luar negeri antara China-Rusia bukanlah aliansi militer formal. Melainkan mitra dagang, dimana China membeli produk energi dari Rusia dalam jumlah besar.

“China tidak menginginkan aliansi militer formal dengan Rusia, karena ingin menghindari keterlibatan langsung dalam kekacauan politik internasional dari gerakan destabilisasi Moskow di Eropa Timur, dan memiliki ‘kebijakan perdamaian luar negeri independen’ yang menentang konflik militer dan menekankan pentingnya dialog,” ujar Thomas dari Eurasia Group.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.