Denyut Investasi HPAL yang Menopang Pemulihan Ekonomi

Denyut Investasi HPAL yang Menopang Pemulihan Ekonomi

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Sementara, komponen ekspor Sulawesi Selatan berkontribusi hingga 22,28 total Produk Domestk Bruto (PDB) daerah ini, berdasarkan data resmi BPS.

Tiga Proyek Besar HPAL PT Vale Indonesia

Denyut Investasi HPAL yang Menopang Pemulihan Ekonomi
Pekerja PT Vale IGP Bahodopi, mengikuti upacara sebelum bekerja, beberapa waktu lalu.(ist)

Dengan satu industri RKEF di Sorowako, perusahaan tambang peraih PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup itu sudah memberi dampak ekonomi yang besar bagi daerah, dan membuka lapangan kerja yang banyak.

Dalam dua tahun ke depan, hingga 2027, PT Vale bakal memiliki 3 kawasan pertambangan beserta pabrik smelter yang akan membuat kapasitas produksi nikel PT Vale meningkat hingga lebih dari 3 kali lipat. Itu berarti terjadi penyerapan tenaga kerja yang besar, investasi yang fantastis dan tentu saja menggerakkan ekonomi.

“Ada tiga proyek pengembangan yakni di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, yang sampai hari ini sedang berjalan sudah menyerap totalnya 10.000 hingga 12.000 tenaga kerja, dengan total investasi berkisar 8-9 miliar dolar dalam tiga tahun proyek berjalan. Kita menggunakan kontraktor lokal dan nasional untuk ketiga proyek ini,” ungkap Direktur dan Chief Project Officer, Muhammad Asril, pada 27 Agustus 2025 lalu.

Asril berbicara lewat jaringan virtual kepada wartawan, saat event MediaMind 2025 di Kampus Universitas Hasanuddin. Saat berbicara tentang proyek tersebut, Asril sedang berada di salah satu dari tiga proyek pengembangan tersebut, yakni di Morowali.

Baca Juga

Di Morowali, PT Vale menggandeng GEM Co., Ltd untuk mengembangkan smelter berteknologi HPAL. Pabrik PT Vale ini akan memproduksi 66 Kiloton Nikel per tahun, dan akan berproduksi pada 2027. Berbeda dengan pabrik PT Vale di Sorowako yang berteknologi RKEF, industri di Morowali bersama dua industri lain yang dikembangkan akan memproduksi nikel dalam bentuk MHP. Kadar nikelnya lebih rendah, berkisar 35-45 persen.

“Produk turunannya nanti diolah jadi bahan baku baterai, jadi intermediate product yang diolah jadi precursor (campuran kimia cikal bahan aktif katoda), untuk baterai kendaraan listrik,” ungkap Asril yang juga bertanggung jawab atas semua proyek pengembangan PT Vale Indonesia.

Selain Morowali, terang dia, PT Vale juga punya proyek di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Juga memproduksi HPAL, dengan kapasitas lebih besar, yakni 120 kilo ton nikel dengan menggandeng Ford dan Huayou Cobalt. Ditargetkan proyek pertambangannya rampung pada awal 2026 dan pabriknya akhir 2026 untuk tahap 1. Pembangunan pabrik ini telah menyerap 3.632 pekerja.

Proyek ketiga, adalah Sorowako Limonite. Dibangun di Lampia, Malili, dengan kapasitas 60 kilo ton nikel, dan partnernya adalah Huayou. “Investasinya sekitar 2 miliar dolar,” ungkap Asril lagi.

“Bagaimana efeknya terhadap ekonomi? bisa dilihat data BPS, bagaimana peningkatan signifikan di Bahodopi dan Pomalaa saat ini, serta penurunan tenaga kerja,” ungkap Asril lagi.

Sejalan dengan Rekomendasi Bank Indonesia

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.