Terkini, Makassar — Setiap Iduladha, kita kembali pada kisah agung seorang ayah dan anak, Nabi Ibrahim dan Ismail. Sebuah drama keimanan dan kepasrahan.
Ketika suara langit meminta sesuatu yang mustahil—mengorbankan anak sendiri—dan manusia tunduk tanpa tanya. Cerita ini telah berulang-ulang kita dengar. Kita peringati, kita rayakan, kita ulang dengan menyembelih kambing, sapi, atau kerbau.
Namun di balik ritual itu, adakah kita sungguh-sungguh meneladani keberanian moral Ibrahim? Ataukah kita sekadar merayakan daging dan formalitas?
Zaman kini tak kekurangan bentuk-bentuk penyembelihan. Bukan dalam arti harfiah, melainkan simbolik. Kita menyaksikan anak-anak bangsa dikorbankan di altar ambisi kekuasaan dan pasar.
Rakyat kecil dikorbankan demi proyek infrastruktur raksasa. Alam disembelih pelan-pelan dalam kesepakatan tambang dan investasi. Para penguasa berlomba menampilkan wajah dermawan saat Iduladha, tetapi tetap bungkam ketika warga tergusur demi pembangunan.
- Himbauan Pemkab Jeneponto, Stop Penebangan Sembarangan, Lestarikan Pohon Demi Lingkungan Sehat, Cegah Erosi
- Jeneponto Satukan Langkah, Komitmen Bersama Percepat Penurunan Stunting Demi Generasi Berkualitas
- GESIT DATA PRESISI, Terobosan Pemkab Jeneponto Wujudkan Satu Data Terpadu Percepat Penurunan Stunting
- HUT ke-48, Bupati Andi Asman Luncurkan Buku 'BupAAS: Jalan Pengabdian'
- Adira Expo Takalar 2026 Hadirkan Solusi Finansial untuk Liburan Keluarga yang Lebih Nyaman
Saya kira, di sinilah absurditas itu berlangsung. Kita memperingati pengorbanan suci, tetapi tak pernah mempertanyakan siapa yang dikorbankan hari ini dan untuk siapa.
Ibrahim bukanlah nabi yang patuh tanpa nalar. Dalam banyak riwayat, ia adalah pencari—yang menggugat bintang, bulan, dan matahari sebelum mengakui Tuhan. Ketika wahyu menyuruhnya menyembelih Ismail, ia tidak langsung patuh. Ia berdialog. Ia tanya anaknya. Ismail pun menjawab dengan ikhlas.
Ada ruang percakapan, bukan kepatuhan membuta. Kisah ini bukan tentang kekejaman Tuhan, tapi tentang keberanian manusia mendialogkan iman, menggugat ketakutan, dan mencapai ketulusan tertinggi.
Sialnya, banyak tafsir hari ini justru melanggengkan kekuasaan atas nama iman. Agama dijadikan alat legitimasi. Rakyat diminta ikhlas atas harga bahan pokok yang naik, subsidi dicabut, proyek gagal jalan, tetapi dilarang menggugat penguasa. Seakan-akan berkorban berarti pasrah tanpa suara.
Padahal, spirit Ibrahim adalah keberanian untuk menguji suara yang terdengar suci, dan bertanya: adakah ini betul suara Tuhan, atau sekadar gema ego dan nafsu kekuasaan?
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
