Apa arti kurban bila yang disembelih adalah hewan, tapi bukan privilese? Apa gunanya kita meneladani Ibrahim, bila kita menolak menanggalkan status dan kekuasaan saat melihat ketidakadilan?
Di tengah kebijakan yang abai pada kesejahteraan dasar—kesehatan, pendidikan, lingkungan—Iduladha seharusnya jadi ruang kontemplasi kolektif. Bukan sekadar ritual, tetapi juga seruan moral.
Barangkali inilah saatnya kita berhenti bertanya apakah kita sudah cukup berkorban. Sebaliknya, kita perlu merenungi: siapa yang terus-menerus dikorbankan agar kita bisa hidup nyaman?
Di meja makan kita yang penuh, di balik AC dan kendaraan pribadi, ada buruh peternakan yang dibayar murah, ada petani yang tak punya tanah, ada anak-anak yang putus sekolah karena sekolah rusak atau terlalu jauh.
Spirit Ibrahim, bila sungguh-sungguh dipahami, menantang kita untuk mengambil posisi etis yang sulit, untuk melawan ketimpangan, meski artinya melawan sistem yang kita nikmati.
- Himbauan Pemkab Jeneponto, Stop Penebangan Sembarangan, Lestarikan Pohon Demi Lingkungan Sehat, Cegah Erosi
- Jeneponto Satukan Langkah, Komitmen Bersama Percepat Penurunan Stunting Demi Generasi Berkualitas
- GESIT DATA PRESISI, Terobosan Pemkab Jeneponto Wujudkan Satu Data Terpadu Percepat Penurunan Stunting
- HUT ke-48, Bupati Andi Asman Luncurkan Buku 'BupAAS: Jalan Pengabdian'
- Adira Expo Takalar 2026 Hadirkan Solusi Finansial untuk Liburan Keluarga yang Lebih Nyaman
Sebab pengorbanan tanpa keberpihakan hanyalah seremonial dan Iduladha tanpa keadilan sosial hanyalah pesta daging.
Mungkin kita tak bisa menjadi Ibrahim sepenuhnya. Kita terlalu terikat pada kenyamanan, pada rutinitas, pada dunia yang terus memacu kita untuk memiliki lebih, bukan memberi lebih.
Namun barangkali, di tengah dunia yang gaduh dan serba cepat ini, kita masih bisa belajar sejenak menjadi seperti Ibrahim—bukan dalam menyembelih, melainkan dalam keberaniannya untuk bertanya, mendengar, dan melepaskan.
Sebab sesungguhnya, inti dari Iduladha bukanlah tentang darah yang menetes atau daging yang dibagi. Namun tentang hati yang terbuka untuk melihat yang tak kasat mata, seperti tangis yang disembunyikan, beban yang dipikul diam-diam, dan hidup yang dililit pengorbanan tanpa nama.
Dan mungkin, jika kita cukup hening mendengar, kita akan tahu: Tuhan tak butuh daging kita. Tetapi Ia rindu melihat manusia yang saling mengasihi, yang berani berdiri di sisi yang sunyi—tempat keadilan menunggu untuk ditegakkan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
