Terkini.id, Makassar – Ketua Permabudhi Sulsel Yongris Lao mengamati bahwa kontestasi politik di Indonesia kerap menimbulkan luka-luka. Alhasil, masyarakat yang menjadi korban. Sebab itu, kehadiran tokoh agama di tengah situasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan solusi.
Ia mencontohkan beberapa kasus, salah satunya pada Pilgub Jakarta beberapa tahun silam. Ia menuturkan para elit politik sudah hidup rukun setelah pesta demokrasi selesai. Namun, kata dia, masyarakat yang ada di bawah masih tetap bermusuhan.
”Kasus di Jakarta, pejabat sudah jadi menteri dan sudan rukun kembali tapi di bawah masih bermusuhan,” kata Yongris saat mengawali sambutan di Mall Phinisi Point Makassar.
Ia juga pernah menyaksikan ada suami istri beda yang pilihan calon saat Pilwali di Kota Makassar. Hal itu bahkan berlanjut hingga pisah rumah. Sebab itu, kehadiran tokoh agama penting untuk menangkal perusak kerukunan.
“Apa yang harus kita lakukan?”
Ketua Generasi Muda Indonesia Tionghoa Ervan Sutono berpandangan bahwa selama ini politik kerap dianggap sesuatu yang menyeramkan. Padahal, kata dia, seluruh segmentasi kehidupan erat kaitannya dengan kebijakan politik.
“Kita tidak perlu takut bicara politik, tetap harus punya pandangan,” kata Ervan.
Menurutnya, politik identitas bukan hal baru, bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Latin dengan gerakan proletar, di Afrika dengan gerakan anti apertheit, di Eropa dengan gerakan feminisme.
“Persoalannya masyarakat indonesia siap tidak dengan itu. Politik identitas ini salah satu alat untuk mendapatkan simpati atau ada yang diperjuangkan,” tuturnya.
Ia mengatakan sudah ada aturan main yang sudah ditetapkan Bawaslu. Di sisi lain, ia menuturkan politik identitas tak bisa dihindari. Sebab itu, kata dia, bagaimana membentengi umat bahwa politik sangat dinamis.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
