Dokter Minta Pemda Jangan Arahkan Pasien Suspect Corona ke RS Umum, Ini Dampaknya

Dokter Minta Pemda Jangan Arahkan Pasien Suspect Corona ke RS Umum, Ini Dampaknya

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Warga yang merasakan gejala sakit yang mirip penderita corona dan punya riwayat kontak maupun kunjungan ke tempat tersebarnya wabah corona, sebaiknya agar langsung memeriksakan diri ke rumah sakit khusus rujukan corona.

Dokter spesialis yang aktif membagikan pengetahuannya di media sosial, yakni Erta Priadi Wirawijaya mengungkapkan dampaknya bisa fatal ketika pasien suspect diarahkan ke klinik biasa atau rumah sakit umum yangbukan rujukan corona.

Hal itu karena rumah sakit biasa banyak yang tidak dilengkapi dengan fasilitas memadai, seperti berupa baju Hazmat, Airtight Goggles dan masker N95. Hal itu karena fasilitas fasilitas tersebut semakin langka.

Ketika perawat berinteraksi dengan pasien tanpa fasilitas tersebut, lalu belakangan pasien baru diketahui ppsitif corona, tentu akan semakin banyak yang tertular.

Erta Priadi mengungkapkan itu setelah menyoroti website
Pemprov Jawa Barat untuk memonitor perkembangan COVID19.

Baca Juga

“Saya apresiasi keberadaan website ini, tapi jujur saya agak heran dengan pernyataan berikut ini:

Berikut ini adalah rumah sakit yang menjadi rujukan untuk pasien dengan status Pasien dalam Pengawasan. Anda harus mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat terlebih dahulu seperti “klinik/rumah sakit umum sebelum akhirnya dapat dirujuk ke rumah sakit khusus di bawah ini.”

“Tolong barang siapa yang bertanggung jawab terhadap hal ini pelajari dulu tentang COVID19 dan metode penularannya,” terangnya.

“Ini penyakit yang spektrum klinisnya luas, ada yang gejalanya berat mengancam nyawa, namun mayoritas gejalanya ringan bahkan ada yang tidak bergejala namun bisa tetap menularkan penyakitnya. WHO juga sudah confirm ini bisa menular secara airborne, artinya virus bisa menular hanya dengan orang ngomong apalagi teriak. Tidak perlu pake batuk. Untuk mencegah penularannya bagi mereka yang kontak dekat diperlukan APD lengkap berupa baju Hazmat, Airtight Goggles dan masker N95. Coba anda cari barang itu sekarang, hampir tidak ada di distributor alkes. Kalau ada harganya pun melambung tinggi. Coba anda lihat APD yang dikenakan oleh para Tim Skreening COVID19 di Korsel pada gambar di bawah. Lengkap kan? Ini baru benar,” katanya.

Karena itu, dia pun meminta pemerintah agar pasien suspek COVID19 tidak diarahkan ke Klinik atau RS Umum dulu karena pasti tidak ada Tim penapisan COVID19 yang berpakaian APD lengkap seperti itu.

“Karena APD sudah sulit dicari di pasaran, untuk menangkal COVID19 kami terpaksa pakai jas hujan sekali pakai. Kalau alurnya seperti ini, itu sama saja menyuruh warga yang kemungkinan memiliki COVID19 menularkan penyakitnya ke populasi rentan yang sedang sakit dan berobat di klinik / RS tersebut,” terangnya.

Sebaiknya anda gunakan saja bus, lalu mampir di tempat parkir atau lapangan yang luas, disampingnya buka tenda lalu arahkan pasien suspek COVID19 ke situ. Buat beberapa tempat pemeriksaan dengan jarak agak jauh (social distancing) sehingga yang positif tidak menularkan penyakitnya ke yang sehat.

Petugas skreening harus berpakaian lengkap seperti di Korsel sehingga mereka tidak tertular. Jika memang akhirnya ada yang perlu dirawat baru rujuk ke RS Rujukan dengan diantar ambulan khusus yang petugasnya juga dilengkapi APD lengkap.

Jika pasien masih perlu isolasi bekali mereka dengan pengetahuan yang cukup, literatur, atau masker sehingga isolasinya bisa berjalan baik. Kalau semua ini dikelola Pemprov atau bahkan pemerintah pusat saya yakin dana dan SDM-nya ada, kalau di serahkan begitu saja ke klinik atau RS, aduh pak cari APD nya saja kami bingung. Pasti nanti penyakitnya makin menular, menyebar ke staff dan pasien kami.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.