Eks Kader Partai Demokrat Gencarkan Tudingan Seputar Dosa Politik SBY

Eks Kader Partai Demokrat Gencarkan Tudingan Seputar Dosa Politik SBY

R
EP
Resty
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Salah satu yang ia tudukan adalah bahwa SBY lah yang sebenarnya telah mengkudeta Anas Urbaningrum, Ketua Umum sebelum SBY dan AHY.

“SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dan juga Presiden RI mengambil kekuasaan Anas Urbaningrum dengan cara membentuk Presidium di mana ketuanya SBY dan Wakil Ketua Anas Urbaningrum. Anas yang tidak memiliki fungsi lagi menjalankan roda partai Demokrat sebagai Ketum. Inilah kudeta yang pernah terjadi di Demokrat,” kata Jhoni dalam keterangan videonya, pada Senin, 1 Maret 2021, dilansir dari CNN Indonesia.

Jhoni juga menuding bahwa SBY telah merekayasa Kongres IV 2025 di Surabaya sehingga ia menjadi calon tunggal Ketua Umum.

“Pada Kongres IV 2015 di Surabaya, SBY merekayasa jalannya kongres agar dia menjadi calon tunggal Ketua Umum Partai Demokrat. Inilah bentuk pengingkaran janjinya terhadap dirinya sendiri, dan para kader Partai Demokrat di seluruh Tanah Air,” bebernya.

Tudingan SBY merekayasa KLB untuk jadikan AHY Ketum

Baca Juga

Jhoni Allen juga menuturkan bahwa SBY melakukan rekayasa dalam Kongres Partai ke-V pada tahun 2020 yang menetapkan AHY sebagai ketum.

Menurutnya, saat itu tata cara kongres tidak dilakukan sebagaimana mestinya dengan cara tidak membahas syarat dan tata cara pemilihan ketum.

“Selanjutnya pada kongres kelima, 15 Maret 2020 di Senayan, Jakarta kembali SBY merekayasa tata cara kongres tidak sesuai sebagaimana mestinya. Pembahasan tata tertib acara tidak dilakukan di mana salah satu isinya membahas syarat dan tata cara pemilihan ketum,” kata Jhoni, dilansir dari kumparan.

Selain itu, Jhoni juga membeberkan bahwa SBY tidak memberikan laporan pertanggungjawaban dan peserta kongres yang tidak memiliki hak suara diusir ke luar kongres.

“Selain itu tidak ada laporan pertanggungjawaban dari ketum SBY. Setelah pidato ketum SBY, peserta kongres yang tidak punya hak suara diusir keluar arena kongres, semestinya seluruh peserta kongres memiliki hak bicara. Padahal hak suara hanya digunakan pada saat pemilihan ketum atau perbedaan pendapat,” katanya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.