Pengamat Politik Salim Said: SBY yang Pertama Melakukan Kudeta Demokrat

Pengamat Politik Salim Said: SBY yang Pertama Melakukan Kudeta Demokrat

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Perdebatan terkait prahara di tubuh Partai Demokrat terus bergulir. Pihak yang pro dengan Kubu Moeldoko dan Pro kubu AHY berdebat di media sosial.

Seperti diketahui, sejumlah kader partai Demokrat sebelumnya menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) secara sepihak dan memutuskan Jenderal (Purn) Moeldoko sebagai Ketua Umum.

Tentu saja, KLB yang digelar di Deli Serdang, 
Sumatera Utara pada Jumat, 5 Maret 2021 tersebut banyak diprotes sejumlah pihak, terutama Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Hal itu lantaran KLB yang menetapkan Moeldoko sebagai Ketum tersebut tidak sesuai anggaran dasar organisasi dan tidak memenuhi sejumlah syarat lainnya.

Moeldoko pun dituding telah melakukan aksi kudeta dengan cara cara yang tidak etis.

Baca Juga

Di media sosial twitter, perdebatan terkait KLB ini juga menjadi agenda tayangan dialog ‘Karni Ilyas Club’ yang tayang di Youtube.

Lewat akun twitternya, Karni Ilyas, Host dari Karni Ilyas Club’ mengundang pengamat politik dan militer Prof Salim Said untuk memberi pandangan terkait kudeta Partai Demokrat tersebut.

Diskusi itu digelar dengan judul ‘PRAHARA PARTAI DEMOKRAT Prof. Salim Haji Said: “ YANG MELAKUKAN KUDETA PERTAMA ADALAH PAK SBY” 

Diskusi tersebut akan tayang pada malam ini, Kamis 11 Maret 2021 pukul 20.00 WIB

Kudeta SBY

Meskipun belum diketahui pasti isi perbincangan tersebut, namun wacana ‘SBY yang Duluan Mengkudeta’ sudah lebih dahulu dikempar oleh mantan politikus Partai Demokrat, Jhoni Allen Marbun yang juga pro KLB Deli Serdang.

Jhoni Allen sebelumnya menuding Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang telah melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Demokrat di bawah kendali Anas Urbaningrum pada 2013 lalu.

Jhoni bercerita bahwa SBY yang berstatus sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat membentuk presidium setelah Anas tersandung masalah hukum dan belum berstatus sebagai tersangka. Saat itu, Anas menjadi Ketua Umum Demokrat hasil Kongres II.

“SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dan juga Presiden RI mengambil kekuasaan Anas Urbaningrum dengan cara membentuk Presidium di mana ketuanya SBY dan Wakil Ketua Anas Urbaningrum. Anas yang tidak memiliki fungsi lagi menjalankan roda partai Demokrat sebagai Ketum. Inilah kudeta yang pernah terjadi di Demokrat,” kata Jhoni dalam keterangan videonya, Senin 1 Maret 2021.

Setelah itu, Jhoni menjelaskan KLB pertama digelar di Bali pada 2013. SBY saat itu langsung terpilih sebagai Ketum Demokrat menggantikan Anas yang sudah berstatus sebagai tersangka karena terjerat kasus hukum. SBY, kata dia, sempat mengatakan hanya melanjutkan kepemimpinan Anas hingga 2015.

Jhoni juga menjelaskan dirinya sempat diperintah SBY untuk membujuk Marzuki Alie agar tidak maju sebagai kandidat ketua umum pada KLB tersebut. Padahal, Marzuki mendapatkan suara terbesar kedua setelah Anas pada Kongres II tahun 2010.

“Pada Kongres IV 2015 di Surabaya, SBY merekayasa jalannya kongres agar dia menjadi calon tunggal Ketua Umum Partai Demokrat. Inilah bentuk pengingkaran janjinya terhadap dirinya sendiri, dan para kader Partai Demokrat di seluruh Tanah Air,” kata dia.

Tak berhenti sampai di situ, Jhoni menyatakan SBY juga telah merekayasa Kongres V Partai Demokrat yang digelar 15 Maret 2020 lalu di Senayan, Jakarta. SBY, kata dia, tak membahas mengenai tata tertib acara Kongres V mengenai mekanisme pemilihan Ketua Umum.

Kongres V Partai Demokrat kala itu menghasilkan keputusan bahwa Agus Harimurti Yudhoyono ditetapkan sebagai Ketua Umum Demokrat.

“Selain itu, tidak ada laporan pertanggungjawaban dari Ketua Umum SBY. Setelah pidato Ketua Umum SBY, peserta kongres yang tidak punya hak suara diusir keluar dari aren kongres,” kata dia.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.