Formula E Rencana Gunakan Pawang Hujan, Denny: Gak Takut Dibilang Syirik?

Terkini.id, JakartaPegiat media sosial Denny Siregar menanggapi berita disalah satu media yang memberitakan tentang rencana panitia balapan mobil listrik Formula E yang akan menggunakan jasa pawang hujan apabila dibutuhkan nantinya saat ajang balapan Jakarta E-Prix 2022 di sirkuit Ancol, Jakarta Utara pada 4 Juni 2022 mendatang. 

Denny pun menyoroti terkait rencana panitia Formula E yang akan memakai jasa pawang hujan. Ia seperti agak heran dengan hal tersebut dan seperti menyindir sekalian bertanya dengan menuliskan gak takut dibilang syirik?

Hal ini ia sampaikan di akun media sosial Twitternya @Dennysiregar7 seperti terlihat pada hari Jumat, 20 Mei 2022. Ia juga memposting link berita dari media Kompas.com dengan judul berita “Formula E Akan Gunakan Pawang Hujan, Panitia: Kita Cari yang Paling Top”

Baca Juga: Sirkuit Formula E Tak Diizinkan Dipakai Street Race Roda Dua,...

“Loh, pake pawang hujan ? Gak takut dibilang syirik ? (emoticon),” tulis Denny Siregar.

Dilansir dari Kompas.com dengan judul berita “Formula E Akan Gunakan Pawang Hujan, Panitia: Kita Cari yang Paling Top” link berita yang diposting Denny Siregar, Ketua Komite Pelaksana Formula E Ahmad Sahroni mengatakan, jasa pawang hujan akan digunakan apabila dibutuhkan saat ajang balapan Jakarta E-Prix 2022, 4 Juni mendatang.

Baca Juga: Soroti Pertemuan Jokowi dengan Megawati, Ade Armando: Tidak Pantaslah, PDIP...

Sahroni juga menyinggung kemungkinan menggunakan jasa pawang hujan Rara Isti Wulandari yang dikenal saat beraksi di MotoGP Mandalika, Maret lalu.

Sahroni mengatakan, panitia Formula E akan mencari jasa pawang hujan yang paling cocok untuk wilayah Jakarta Utara, khususnya di Ancol yang menjadi lokasi sirkuit.

“Pawang di NTB sama pawang di Ancol beda. Kita akan cari pawang paling top untuk di Jakarta Utara,” kata Sahroni di lokasi sirkuit Formula E Jakarta, Kamis (19/5/2022).

Baca Juga: Soroti Pertemuan Jokowi dengan Megawati, Ade Armando: Tidak Pantaslah, PDIP...

Ketika disinggung apakah panitia Formula E akan memakai jasa Rara, Sahroni mengatakan ada kemungkinan tersebut.

Di sisi lain, Sahroni berharap ajang balapan mobil listrik nanti berjalan lancar tanpa diwarnai hujan.

“Kalau agak berat, kita terbangin Rara ke sini, tapi saya rasa enggak berat,” tutur Sahroni.

“Kita berharap tidak ada hujan, tapi kalaupun ada, kita ambil yang agak sedikit mendadak,” tambah pria yang dikenal sebagai “Crazy Rich Tanjung Priok” tersebut.

Sebelumnya, pihak panitia melaporkan sebanyak 1.050 tiket kelas VIP Formula E sudah terjual 100 persen pada dua pekan menjelang perhelatan, 4 Juni mendatang.

Hal itu disampaikan Vice Managing Director Organizing Committee Jakarta E-Prix 2022 Gunung Kartiko dalam konferensi pers di Mal ABC Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (19/5/2022).

“Tiket VIP sudah sold out 100 persen,” kata Gunung.

Sementara itu, tiket kelas VVIP disediakan untuk sebanyak 1.500 kursi dan dibagi menjadi dua kelas, yaitu Jakarta Deluxe Suite (Rp 7,5 juta) dan Jakarta Royal Suite (Rp 10 juta).

Tiket VVIP disebutkan Gunung sudah terjual lebih dari 50 persen.

“Kemudian untuk Grandstand 10.000 kursi itu juga penjualannya menjadi favorit karena di situ sudah mencapai 70 persen. Lalu yang festival sudah 15 persen, target kita 40.000,” sambung Gunung.

Pawang hujan di MotoGP Mandalika

Sebelumnya, perhelatan MotoGP di Pertamina Mandalika International Street Circuit, Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa waktu lalu menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia.

Selain aksi para pebalap di sirkuit, ada banyak hal yang menarik perhatian masyarakat. Salah satunya aksi pawang hujan Rara Istiati Wulandari.

Foto dan video Rara saat berusaha “menghentikan” hujan yang mengguyur Sirkuit Mandalika tidak hanya menarik perhatian masyarakat Indonesia, tetapi juga dari seluruh dunia.

Setelah video mengenai Rara viral, masyarakat ramai membicarakan hal itu dan terbelah menjadi dua kubu.

Di satu sisi, ada yang mencibir bahkan melontarkan kecaman mengapa Indonesia menggunakan jasa pawang hujan dan tak menggunakan kaidah keilmuan.

Namun, di sisi lain, ada juga pihak yang menganggap pengggunaan pawang hujan sebagai bagian dari budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.

Bagikan