Gandeng Pesantren untuk Bangun Ekonomi Indonesia, Erick Thohir: Program Santri Magang di BUMN

Gandeng Pesantren untuk Bangun Ekonomi Indonesia, Erick Thohir: Program Santri Magang di BUMN

R
Helmi Yaningsi
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan akan berkolaborasi dengan pesantren untuk membangun ekonomi Indonesaia.

“Hari ini kita buat program kolaborasi dengan pesantren dan program BUMN yang berpihak kepada rakyat,” kata Erick Thohir, Minggu 21 November 2021.

Selanjutnya Erick menjelaskan bahwa pesantren adalah salah satu mercusuar peradaban dan merupakan bagian penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Oleh karena itu menurutnya untuk meningkatkan pembangunan ekonomi nasional saat ini,  tidak hanya dilakukan pemerintah maupun swasta saja. Tetapi juga dibutuhkan peran santri dan pesantren di seluruh wilayah Indonesia.

“Kami coba kerja sama program santri magang di BUMN, supaya para santri juga punya pengalaman ekonomi,” ucap Erick.

Baca Juga

Lebih lanjut dikatakan bahwa jumlah santri di Indonesia sangat banyak. Sehingga, harus menjadi kekuatan ekonomi bersama karena yang terpenting adalah pembangunan SDM.

“BUMN dan pesantren punya roadmap yang sangat mendukung. Kita harus bersatu, pesantren adalah mercusuar peradaban yang merupakan bagian penting dalam pembangujan ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong KH Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan pentingnya tripilar ekonomi keumatan kepada Menteri BUMN.

“Selama ini orang modern terlalu sering menyebut istilah knowledge-based economy, yakni perekonomian yang didasarkan atas produksi, distribusi dan penggunaan knowledge (pengetahuan),” katanya.

Menurutnya, knowledge-based economy memang penting untuk menghindari jebakan bagi negara berpenghasilan menengah yang hanya bertumpu pada ekonomi berbasis komoditi (sumber daya alam).

“Jadi, negara berkembang juga perlu untuk merambah ke ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) agar bisa menghasilkan nilai tambah (value added) yang lebih tinggi,” katanya, dilansir dari Tribunnews.

Selanjutnya, ia menjelaskan pilar ketiga ekonomi yakni culture-based economy atau ekonomi yang didasarkan pada budaya.

“Terlepas dari pemikiran orang modern di atas, saya ingin menambahkan perlunya kita juga menyempurnakan konsep dan praktik knowledge-based economy dengan culture-based economy,” ucap Ketua MUI Jatim itu.

Menurutnya, membangun ekonomi Indonesia dengan tidak menyebut santri dan pesantren akan kehilangan ruh sosial. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah seharusnya menjadikan santri dan pesantren sebagai titik berangkat atau miqot bagi pengembangan ekonomi masyarakat.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.