Gegara Alat Penyaring Debu, Produksi Nikel Vale 2018 Tak Capai Target

Terkini.id, Makassar – Perusahaan tambang yang beroperasi di Sulawesi, PT Vale Indonesia Tbk, mencatat penurunan produksi pada tahun 2018.

Hal itu terungkap dalam konferensi pers terkait Simposium ‘Keberlanjutan Masa Depan’ yang digelar di Hotel Claro Makassar, 6 Februari 2019.

Head of Communications PT Vale Indonesia Bayu Aji Suparam, mengungkapkan, produksi PT Vale pada tahun 2018 sebanyak 74.806 ton nikel dalam matte.

Angka tersebut lebih rendah dari target yang ditetapkan perusahaan sebanyak 75.000 ton nikel dalam matte.

Padahal, menurut Bayu Aji, target sebanyak 75.000 ton tersebut sebenarnya sudah direvisi pada pertengahan tahun 2018.

“Target awal adalah 77.000, namun direvisi menjadi 75.000 ton hingga akhir tahun 2018,” terang dia.

Tahun 2019, Vale memperkirakan produksi nikel tetap berada di kisaran 75.000 ton.

Alat Penyaring Debu

Salah satu masalah penting yang membuat perusahaan eksplorasi dan pengolahan tambang nikel itu mengalami penurunan produksi, adalah gangguan di fasilitas penyaring debu.

Menurut dia, dengan masalah yang terjadi pada alat penyaring debu atau baghouse itu, aktivitas produksi tidak bisa dijalankan maksimal demi menjaga kualitas produksi.

“Itu sebabnya produksi tidak sesuai target,” tambah Bayu yang didampingi Senior Coordinator of Communication for Publications, Sihanto Bela.

Keberlanjutan Investasi Masa Depan

pt vale, simposium, sdgs,

Dalam simposium yang yang dihadiri para praktisi, akademisi, LSM, serta para jurnalis itu, Vale menyampaikan dukungannya terhadap program-program Sustainable Development Goals (SDGs) melalui praktik-praktik pertambangan yang baik (good mining practice).

“Di Vale, berinvestasi pada keberlanjutan bukanlah nilai tambah, melainkan sebuah keharusan. Hal itu sesuai dengan misi perusahaan, yakni mengubah sumber daya alam menjadi kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan,” kata Nico Kanter, CEO PT Vale saat memberi sambutan.

Deputi CEO PT Vale, Febriany Eddy dalam diskusi panel mengungkapkan, berbagai upaya dalam mendukung program keberlanjutan tersebut sudah dilakukan.

Mulai dari sisi manajemen pengelolaan dampak lingkungan, ekonomi sosial, serta paling penting untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Pemanfaatan Energi Terbarukan

PT Vale cukup confident dalam melakukan upaya yang memenuhi target SDGs.

Misalnya dalam hal energi terbarukan. Saat ini, PT Vale sudah menggunakan hingga 38 persen energi terbarukan sebagai bahan baku energi dalam produksi tambang.

Bukan hanya itu, terang dia, untuk penggunaan alat-alat berat di lokasi tambang, sudah menggunakan 20 persen Bahan Bakar Minyak (BBM) dari nabati. Sisanya bahan bakar fosil.

Dari sisi gender, Vale juga mempekerjakan kaum perempuan dengan jumlah yang banyak.

Totalnya sudah ada sekitar 9 persen karyawan Vale yang perempuan. Untuk di area manajemen, bahkan sudah mencapai 13 persen. Bahkan ada wanita yang menduduki posisi operator.

“Di sisi lain, penggunaan teknologi ramah lingkngan, melakukan revegetasi, tata kelola perusahaan yang bebas korupsi, juga tetap menjadi perhatian,” pungkasnya.

Simposium tersebut juga dihadiri Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dr Ir Tumiran M Eng, Kepala Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan KLHK Ir Noer Adi Wardojo Msc, Direktur Eksekutif Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) Budi Santosa, serta Cosporate Sustainability Advisor, Jalal.

Berita Terkait
Komentar
Terkini