Ratusan mahasiswa berkumpul di halaman fakultas dengan membawa spanduk bertuliskan tuntutan mereka.
“Kami menolak segala bentuk toleransi terhadap kekerasan seksual di kampus,” demikian bunyi salah satu spanduk.
Aksi ini, kata Fauzil, bukan hanya bentuk dukungan moral, tetapi juga upaya memastikan pihak universitas bertindak lebih tegas terhadap pelaku.
“Kami ingin menciptakan lingkungan kampus yang benar-benar aman, bukan hanya untuk korban, tetapi juga untuk semua mahasiswa,” ujarnya.
Bagi mahasiswa, hukuman skorsing tidak hanya tidak memadai, tetapi juga menunjukkan lemahnya komitmen institusi dalam melindungi mahasiswanya.
- Chery Resmikan Training Center di Makassar, Perkuat SDM Vokasi Otomotif
- Pegadaian Sukses Gelar Tring! Golden Run 2026, Dorong Literasi Investasi Emas
- Titik Terang Harapan Warga Desa Arpal, Sumur Bor TNI Manunggal Air Bersih Jawab Kerinduan Rakyat
- Chery Resmikan Training Center di Makassar, Perkuat SDM Otomotif Indonesia Timur
- Donor Darah dan Seminar Kesehatan Warnai Kegiatan HUT Serikat Karyawan Semen Tonasa
Mereka mendesak agar FS dipecat, sebagai bentuk sanksi yang lebih setimpal dan pesan tegas bahwa kekerasan seksual tidak dapat ditoleransi di lingkungan akademik.
“Pemecatan adalah langkah minimum. Ini bukan hanya soal menghukum pelaku, tetapi juga menciptakan efek jera dan melindungi nama baik kampus,” tambah Fauzil.
Mendorong Perubahan Sistemik
Aksi ini juga menyoroti pentingnya pembenahan sistem perlindungan di kampus. Para mahasiswa mengajukan serangkaian rekomendasi untuk mencegah kasus serupa terulang.
“Kami ingin universitas serius membangun mekanisme perlindungan yang jelas dan tegas,” ujar salah seorang peserta aksi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
