Gelombang Protes Kekerasan Seksual di FIB Unhas, Mahasiswa Tuntut Pemecatan

Gelombang Protes Kekerasan Seksual di FIB Unhas, Mahasiswa Tuntut Pemecatan

K
Kamsah

Penulis

Beberapa rekomendasi yang diajukan mencakup pemasangan CCTV di ruang konsultasi, pendampingan mahasiswa perempuan saat bertemu dengan dosen laki-laki, dan pembentukan unit pendampingan korban yang lebih tanggap.

“Ada banyak hal yang harus diperbaiki. Tidak cukup hanya memberikan hukuman ringan. Keamanan mahasiswa, khususnya perempuan, harus menjadi prioritas utama,” tegas Fauzil.

Respons Universitas dan Harapan yang Tertunda

Pihak Universitas Hasanuddin melalui Satgas Penindakan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) telah menindaklanjuti laporan terhadap FS. Selain skorsing dua semester, FS juga dicopot dari jabatannya sebagai Ketua Gugus Penjaminan Mutu.

Namun, mahasiswa menilai langkah ini masih jauh dari cukup.

Baca Juga

“Tindakan ini terlalu lemah. Jika universitas ingin menunjukkan keseriusan dalam menangani kasus kekerasan seksual, maka langkah tegas adalah keharusan, bukan pilihan,” ujar seorang mahasiswa yang ikut aksi.

Di tengah seruan untuk perubahan, muncul pula harapan agar kampus dapat memulihkan kepercayaan publik. Universitas, sebagai institusi pendidikan, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan lingkungan yang aman dan mendukung mahasiswanya.

“Kami akan terus memantau. Ini bukan hanya tentang FS, tetapi tentang memastikan bahwa kampus menjadi tempat yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” pungkas Fauzil.

Perjuangan Belum Selesai

Aksi solidaritas ini menjadi pengingat bahwa melawan kekerasan seksual di kampus bukan hanya tugas mahasiswa, tetapi tanggung jawab bersama. Suara korban yang berani berbicara, didukung oleh solidaritas mahasiswa, kini menjadi kekuatan yang memaksa institusi untuk bertindak.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.