Banyak jalur distribusi barang di Indonesia Timur yang terhubung melalui jaringan saudagar Bugis-Makassar. Dari kapal kayu di pelabuhan hingga gudang logistik di kota-kota besar, jaringan itu terus hidup dan berkembang.
Karena itu, tidak berlebihan jika jaringan saudagar Bugis-Makassar sering disebut sebagai salah satu penggerak ekonomi Indonesia Timur. Mereka bukan hanya berdagang untuk diri sendiri, tetapi membangun jaringan usaha yang menghubungkan pulau, daerah, dan pasar.
“Orang Bugis-Makassar ini bukan hanya pedagang, tetapi pelaut kehidupan. Mereka berlayar, merantau, membangun usaha, dan membentuk jaringan ekonomi di mana pun mereka berada,” ujar Sherly.
Bagi banyak perantau Bugis-Makassar, merantau bukan sekadar mencari nafkah, tetapi membangun masa depan, jaringan, dan nama keluarga.
Semangat merantau, berdagang, dan membangun usaha diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bagian dari identitas dan budaya.
- Di Business Forum IGS 2026, Wali Kota Makassar Akan Tawarkan Peluang Investasi Strategis
- Bedah Buku Ajoeba Wartabone Hidupkan Kembali Semangat Perjuangan Tokoh Bangsa dari Indonesia Timur
- Welcome Dinner IGS 2026 di Fort Rotterdam, Wali Kota Munafri Ajak Delegasi 28 Negara Mengenal Potensi Makassar
- Munafri Arifuddin: Makassar Siap Jadi Gerbang Kerja Sama Internasional Kawasan Timur Indonesia
- Wakil Gubernur Dukung Perluasan Program RISE untuk Perkuat Sanitasi Berkelanjutan di Sulsel
“Di laut mereka berlayar, di darat mereka berdagang, dan di mana pun mereka berada, mereka membangun jaringan. Itulah Bugis-Makassar, pelaut kehidupan sekaligus saudagar yang menjadi bagian penting dari denyut ekonomi Indonesia Timur,” kata Sherly Tjoanda Laos.
“Bugis-Makassar bukan hanya pelaut laut, tetapi pelaut kehidupan yang membangun jaringan ekonomi di mana pun mereka berlayar dan merantau,”tandasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
