Terkini.id, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya baru-baru ini mengatakan jika istilah kafir tidak relevan digunakan di negara modern.
Pernyataan Gus Yahya ini diserbu kritikan pedas oleh pengguna media sosial atau disebut dengan netizen yang mengatakan kyai macam apa ini yang menganggap istilah kafir tidak relevan, sementara itu adalah bahasa Al-Quran.
Narasi sindiran netizen dipublikasikan melalui sebuah komentar di media sosial Twitter, sebagaimana dilihat pada, Kamis 31 Maret 2022.
“Bahasa Al-Quran dibilang nggak relevan, kyai macam ap orang ini, dikirain Al-Quran sama seperti novel dan komik kali. Bagi saya kafir bahasa Al-Quran ya tetap kafir untuk selamanya”, tulis netizen.

Diwartakan sebelumnya, Gus Yahya mengatakan jika kategori kafir tidak relevan digunakan di negara modern. Gagasan itu disampaikan berdasarkan kesimpulan yang telah disepakatai PBNU.
- Ketua Umum PBNU Gus Yahya Nilai Polri Berhasil Jaga Ketentraman Jelang Pemilu 2024
- Dianggap Fitnah Gus Yahya, Faizal Assegaf Dilaporkan ke Bareskrim
- Himbau Politisi dan Partai Politik Tak Gunakan Politik Identitas, Gus Yahya: Jangan Sampai Memperalat Identitas Sebagai Senjata
- Gus Yahya Tegaskan Tak Pecat Mardani Maming Meski Terlibat Kasus Korupsi: Dia Tidak Diberhentikan Lho Ya
- Soal Mardani Maming, Kiai Pesantren: Rusak Reputasi NU Sebagai Ormas Pendukung NKRI
Pernyataan Gus Yahya ini dilandasi dengan alasan untuk mengurangi permusuhan atau perselisihan antar umat beragama.
“Kami pada waktu itu dengan membuat kasimpulan bahwa kategori non muslim atau kafir sesungguhnya tidak relevan dalam konteks negara bangsa modern”, kata Gus Yahya dalam webinar Majelis Ulama Indonesia (MUI), dikutip dari laman CNN Indonesia.
Menurut Gus Yahya, hal semacam ini juga telag dilakukan oleh umat beragama lain seperti di Vatikan dan kelompok dalam umat Yahudi.
Pada 2016 lalu, kata Gus Yahya, muncul kelompok yang menamakan diri sebagai Yahudi Konservatif. Kelompok ini mengaku masih memegang Taurat namun membuka peluang penafsiran baru.
Kelompok ini berbeda dengan Yahudi Ortodoks yang memegang Taurat dan tidak mau membuat interpretasi sama sekali serta Yahudi Reformis yang membangun nilai baru tanpa melihat teks Taurat.
Gus Yahya kemudian mengungkapkan bahwa Yahudi Konservatif mengumumkan dokumen pertobatan. Mereka menyebut secara terang-terangan bahwa dalam wacana Yahudi Klasik terdapat wawasan agama yang merendahkan kelompok di luar Yahudi.
“Dalam wacana Yahudi klasik, memang ada wawasan keagamaan yang misalnya merendahkan kelompok di luar Yahudi, menganggap ras di luar Yahudi yang inferior”, tandasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
