Ibarat perjalanan panjang, butuh persinggahan, beristirahat di halte. Bukan sekadar berhenti tapi mempersiapkan perjalanan berikutnya.
Perjalanan hari 10 ramadan ini mengantarkan kita ke halte sepuluh pertama, saatnya dibuka pintu taubat. Ramadan dibagi dalam tiga “halte’.
Sepuluh pertama berupa rahmat, sepuluh kedua dibuka pintu taubat dan sepuluh ketiga dijanjikan akan dibebaskan dari neraka. Halte-halte itu dilalui menuju ketaqwaan yang paripurna.
Tiba di halte taubat inilah mengharuskan kita sejak “singgah” untuk merenungkan perjalanan hidup penuh kekhilafan, maka inilah peluang bagi “pendosa” untuk mendapatkan pengampunan atas segala dosa yang kadang dilakukannya secara sadar. Bertaubat bukan sebatas ucapan atau pengakuan, tetapi berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
Karenanya halte pengampunan dosa ini, seharusnya setiap kita segera mengidentifikasi pelbagai dosa yang diperbuat. Melalui proses identifikasi tersebut, setiap kita dalam menghitung secara cermat segala bentuk dan waktu dosa tersebut dilakukan.
Halte taubat menjadi tempat untuk sejenak merancang perjalanan selanjutnya, memperbaiki kualitas ibadah dengan meningkatkan bilangan-bilangan kebajikan.
Setelah mengetahui waktu melakukannya dan bentuk dosa yang diperbuat, maka proses taubat dilakukan.
Sebaiknya dilakukan shalat sunat taubat kemudian diikuti taubat dan janji untuk tidak mengulangi dihadapan Allah Swt. Tentu akan terasa lebih khusyu sekiranya dilakukan di tengah malam seusai tahajud menjelang sahur diiringi tetesan air mata di atas sajadah di keheningan malam.
Ramadan ini sebagai kesempatan terbaik untuk kembali pada fitrah. Nabi menegaskan bahwa setiap anak cucu Adam senantiasa melakukan kesalahan dan dosa, sebaik-baik pendosa adalah mengakui kesalahannya dengan bertaubat.
Rangkaian dosa dilakukan secara sistematis semisal, lalai menunaikan shalat bahkan kadangkala dengan sengaja meninggalkannya.
Dalam al-Qur’an diperintahkan untuk bertaubat. Dalam surah At-Tahrim Allah menyerukan kepada hamba-Nya yang beriman untuk bertaubat dengan taubat nasuhah, taubat yang sebenar-benarnya diikuti janji tidak akan mengulanginya kembali.
Di surah lain, Allah menyeruh orang-orang beriman untuk bersegerah taubat, tanpa menunda-nundanya. Nabi penyadarkan umatnya bahwa manusia tempatnya salah dan sebaik-baik yang bersalah adalah mengakui kesalahannya, taubat, menyakini dirinya diampuni.
Demikian dijanjikan bahwa pada malam sepuluh kedua Ramadan ini menjadi momentum untuk segera bertaubat. Karenanya, sebelum terlambat, sejatinya kita semua segera bertaubat dengan taubat nasuhah serta menghindari segala hal yang memungkinkan terjebak kembali.
Perjalanan Ramadan masih panjang yang dilalui dengan halte demi halte menuju ridha-Nya. Halte rahmat telah dilalui , lalu taubat ini sejenak introspeksi diri untuk menjadi lebih baik di mata sang khalik, menuju halte berikutnya pembebasan dari api neraka.
Semoga segera meraup pengampunan dan diberi hidayah untuk tidak mengulangi dosa-dosa serupa pasca ramadan.
Firdaus Muhammad,
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
