Terkini.id, Jakarta – Politisi Demokrat, Kamhar Lakumani menanggapi soal Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menyebut bahwa komunikasi politik Presiden tidak bisa dilakukan dengan mengarang lagu atau menulis buku tebal.
Dalam pernyataannya, Kamhar Lakumani menyinggung agar Hasto terbuka hati dan pikirannya untuk mewujudkan suasana yang lebih teduh
Sebagaimana diketahui, pernyataan Hasto Kristiyanto itu dicurigai adalah sindiran kepada Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memang gemar mengarang lagu.
Kamhar Lakumani mengaku pihaknya berupaya berbaik sangka bahwa pernyataan Hasto itu bukanlah insinuasi terhadap SBY.
Sebab, menurutnya, tidak pas dan tidak relevan jika pernyataan Hasto ditujukan kepada SBY yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.
Deputi Badan Pemenangan Pemilu Partai (Bappilu) Demokrat itu lantas membenarkan bahwa SBY memiliki karya tulis berupa buku.
Bukan hanya itu, menurutnya, SBY juga memiliki dan karya seni, tidak hanya lagu, namun juga karya lukisan yang indah dan estetis.
“Ini bakat luar biasa sekaligus tanda keseimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang optimal dari Pak SBY,” tegas Kamhar Lakumani pada Rabu, 27 Oktober 2021, dilansir dari RMOL.
“Menjadi tak relevan sindiran Hasto jika dikaitkan dengan keberadaan Jubir kepresidenan,” sambungnya.
Kamhar lalu menyinggung bahwa walaupun bukan SBY yang pertama menggunakan Jubir Kepresidenan, namun di era SBY-lah peran Jubir Kepresidenan menjadi sangat populer.
Ia menyebut Andi Mallaranggeng dan Dino Pati Jalal di periode pertama SBY serta Julian Aldrian Pasha di periode kedua.
“Mereka adalah intelektual-intelektual terkemuka dengan reputasi dan capaian yang mendapatkan pengakuan nasional dan internasional,” katanya.
Oleh sebab itu, Kamhar menyatakan bahwa Partai Demokrat berbaik sangka merespons pernyataan Hasto tersebut.
Karena, menurutnya, jika dialamatkan ke SBY pun, itu hanya semakin menegaskan bahwa Hasto insecure dan gagal move on.
Kamhar juga menegaskan bahwa pihaknya berpegang pada fatsun etika politik berbangsa dan bernegara.
Ia menilai, penguasa yang sedang berkuasa sejatinya tidak patut dan tak pantas untuk menjelek-jelekkan penguasa pendahulunya.
Kamhar mengatakan bahwa hal itu dulu ditunjukkan di masa Pemerintahan SBY yang tak pernah menghakimi apalagi menjelek-jelekkan pemerintahan Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri.
Ia juga mengingatkan bahwa negara dan rakyat Indonesia sedang diterpa berbagai persoalan akibat pandemi Covid-19.
Maka, menurutnya, semestinya semua elemen bangsa bersinergi dan berkolaborasi mengatasi persoalan yang ada, bukan malah sebaliknya.
“Semoga Hasto terbuka hati dan pikirannya untuk mewujudkan suasana yang lebih teduh dan kondusif,” tutup Kamhar Lakumani.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
