Hidup di Dunia Seperti di Atas Pesawat

Hidup di Dunia Seperti di Atas Pesawat

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Penulis: Dokter Koboi

Hidup di dunia ini kadang terasa seperti berada di atas pesawat. Kita semua duduk di kursi masing-masing, dengan tujuan yang sama ingin sampai dengan selamat ke tempat yang kita harapkan meski rute, kelas, dan pengalaman di sepanjang perjalanan berbeda-beda.

Ada yang duduk di dekat jendela, menikmati pemandangan hidup dengan penuh rasa syukur. Ada yang di tengah, merasa terjepit oleh keadaan.

Ada pula yang di dekat lorong, selalu siap bergerak, mencari kesempatan, atau sekadar ingin lebih dekat dengan pintu keluar saat keadaan darurat datang.

Di pesawat, kita tidak memilih siapa yang duduk di sebelah kita. Begitu juga dalam hidup. Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana, bertemu siapa di awal perjalanan, atau mengalami peristiwa apa yang datang lebih dulu. Tapi kita bisa memilih bagaimana bersikap terhadap semua itu: ramah atau dingin, peduli atau acuh, sabar atau mudah marah.

Baca Juga

Kadang pesawat berguncang. Turbulensi datang tanpa aba-aba. Begitu juga hidup masalah, kehilangan, kegagalan, dan kekecewaan datang tiba-tiba.

Saat itu, yang paling menenangkan bukan hanya sabuk pengaman, tapi juga suara lembut yang berkata, “Tenang, ini hanya sementara.” Dan di dunia nyata, suara itu sering datang dari orang-orang yang tulus: keluarga, sahabat, atau bahkan orang asing yang memilih untuk peduli.

Di pesawat, pramugari mengajarkan prosedur keselamatan sebelum lepas landas. Dalam hidup, kita belajar dari pengalaman tentang jatuh dan bangkit, tentang memberi dan menerima, tentang memaafkan dan dimaafkan. Semua itu bukan sekadar aturan, tapi bekal agar kita tidak panik ketika badai datang.

Makanan di pesawat mungkin sederhana, tapi terasa berarti saat kita lapar. Begitu juga dengan kebaikan kecil dalam hidup: senyum, sapaan, bantuan kecil, atau kata “terima kasih.” Hal-hal sederhana itu sering menjadi penguat di hari-hari yang berat.

Yang paling pasti dari perjalanan pesawat adalah: ia akan mendarat. Begitu juga hidup. Kita semua menuju akhir yang sama, meski waktunya berbeda.

Karena itu, yang membuat perjalanan ini bermakna bukan seberapa mahal tiket kita, tapi bagaimana kita memperlakukan sesama penumpang dalam perjalanan ini.

Jika hidup ini seperti di atas pesawat, maka marilah kita menjadi penumpang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri.

Yang mau berbagi ruang, sabar menunggu giliran, dan ringan tangan menolong. Karena pada akhirnya, yang akan kita ingat bukan hanya tujuan akhir, tapi bagaimana kita menjalani perjalanan dengan hati yang penuh rasa syukur .

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.