Ijazah dan Imajinasi Republik

Ijazah dan Imajinasi Republik

K
Kamsah

Penulis

Barangkali memang itu niat jangka panjang kekuasaan kita hari ini: menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan, dan membungkusnya dengan slogan pembangunan. Dan rakyat, seperti biasa, akan disuruh bersabar. Disuruh percaya bahwa presiden kita lahir dari proses yang “sangat otentik”—seotentik foto kampanye dengan petani, seotentik sertifikat tanah yang dibagi sambil tersenyum di kamera.

Saya tidak tahu lagi apa yang lebih menyakitkan: kemungkinan bahwa ijazah itu palsu, atau kemungkinan bahwa kita tak lagi peduli apakah itu palsu atau tidak.

Karena begitulah akhirnya kekuasaan merusak nalar: bukan dengan kekerasan, tapi dengan kelelahan. Kita lelah bertanya. Kita lelah menunggu jawaban. Dan dalam kelelahan itu, kita akhirnya memilih diam—atau ikut menertawakan mereka yang masih berani bertanya.

Di titik itulah republik ini benar-benar tamat. Bukan karena kudeta, bukan karena perang, tapi karena semua orang memilih mengangguk atas kebohongan: asal kenyang, asal tenang, dan asal dapat bansos.

Dan saya percaya, bila semua ini benar, maka bukan cuma ijazah yang palsu. Tapi juga demokrasi kita.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.