Ingat Serangan 9/11 WTC Amerika? Pelaku Baru Akan Disidang Januari 2021

Khalid Syekh Mohammad.(AP)

Terkini.id, Jakarta – Pria yang diduga sebagai otak serangan 9/11 di Amerika Serikat, yakni Khalid Sheikh Mohammad, akan disidang tahun depan.

Khalid bakal disidang bersama empat pria lainnya di pengadilan militer di Teluk Guantanamo mulai 11 Januari 2021.

Mereka dituduh melakukan kejahatan perang termasuk terorisme hingga pembunuhan terhadap hampir 3.000 orang.

Lima orang tersebut bakal menjadi yang pertama menjalani persidangan sejak serangan dahsyat yang terjadi di New York, Washington dan Pennsylvania hampir 20 tahun lalu.

Jika terbukti bersalah, Khalid akan menghadapi hukuman mati.

Khalid Sheikh Mohammad ditangkap di Pakistan pada tahun 2003, dan bakal dipindahkan ke pangkalan Guantanamo milik Amerika di Kuba di mana ia kemudian didakwa.

Proses Sidang Selalu Ditunda

Namun, upaya untuk menuntut dia dan anggota kelompoknya terjebak dalam penundaan demi penundaan.

Dalam upaya sebelumnya untuk mengadilinya di hadapan pengadilan militer pada 2009, ia mengatakan bermaksud mengaku bersalah dan akan menerima dirinya sebagai martir.

Pada tahun 2009, pemerintahan Obama, yang telah berjanji untuk menutup Guantnamo, mencoba untuk memindahkan persidangan ke New York, namun menarik kembali keputusannya pada tahun 2011 setelah ditolak oleh Kongres.

Kelima orang itu akhirnya didakwa pada Juni 2011 dengan pelanggaran yang sama dengan yang dituduhkan oleh pemerintahan George W Bush.

Pentagon sebelumnya mengatakan bahwa Khalid Sheikh Mohammad mengakui bahwa ia yang bertanggung jawab “dari A sampai Z” atas serangan pada 11 September 2001.

Terlibat Bom Bali

Dilansir dari detikcom, Jaksa penuntut AS menuduhnya turut terlibat dalam sejumlah kegiatan terorisme lainnya.

Di antaranya pemboman klub malam tahun 2002 di Bali, Indonesia; pemboman World Trade Center 1993; pembunuhan jurnalis Amerika Daniel Pearl; dan upaya gagal pada tahun 2001 untuk meledakkan sebuah pesawat menggunakan ‘bom sepatu’.

Pemeriksaan untuk persidangan mendatang rencananya akan dilakukan bulan depan.

Pengacara-pengacara kelompok itu berusaha untuk melarang penggunaan pengakuan para terdakwa kepada FBI tahun 2006 lalu.

Mereka berpendapat bahwa pengakuan tersebut tidak dapat digunakan di pengadilan karena diambil melalui proses interogasi secara kasar yang dilakukan selama penahanan mereka.

Khalid mengatakan bahwa ia telah berulang kali disiksa selama penahanannya di Kuba.

Dokumen CIA mengonfirmasi bahwa ia menjadi sasaran simulasi penenggelaman yang dikenal dengan sebutan ‘waterboarding’ sebanyak 183 kali.

Empat orang lainnya – Walid bin Attash, Ramzi bin al-Shibh, Ammar al-Baluchi dan Mustafa al-Hawsawi – juga diinterogasi oleh CIA dalam jaringan penjara luar negeri, yang dikenal sebagai “situs hitam”, sebelum mereka diserahkan kepada militer AS.

Komentar

Rekomendasi

Berita Lainnya

Sekretariat AJI Makassar Dimasuki Maling, 2 Laptop dan 2 HP Milik Wartawan Hilang

Sah, Jokowi Janji Beri Insentif untuk Sopir Bus, Taksi dan Truk

Dua Separatis KKB Papua yang Tembak Karyawan Freeport Tewas Disergap Aparat TNI-Polri

Ratusan Keluarga Kerajaan Arab Saudi Positif Corona, Raja Salman Isolasi Diri

Keluarga Pasien Corona di Makassar Ungkap Kisah Haru di Balik Isolasi Sang Ibu

Bukannya Tinggal di Rumah, 3 Pemuda Ini Malah Rampok Rumah Orang

Tak Lupa Ibadah, Petugas Medis Ini Salat Sambil Kenakan APD

Jokowi Tegaskan Penetapan Status PSBB di Daerah Harus Hati-hati

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar