Ini Soal Agama Baha’i yang Dapat Ucapan Selamat Hari Raya dari Menag Yaqut Cholil

Terkini.id, Jakarta – Ini soal agama Baha’i yang dapat ucapan selamat hari raya dari Menag Yaqut Cholil. Belum lama ini, ucapan dari Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas saat menyampaikan selamat hari raya untuk agama Baha’i, langsung mendapat reaksi dan sorotan dari netizan. Pasalnya, mereka mempertanyakan terkait agama tersebut.

“Selamat Hari Raya Naw Ruz kepada umat Baha’I,” demikian ungkap Menag Yaqut.

Sekadar diketahui, di Indonesia hanya ada enam agama resmi yang diakui negara, antara lain Islam, Hindu, Buddha, Protestan, Katolik, dan Konghucu.

Baca Juga: Kagumi dan Puji Cinta Laura, Menag Yaqut: Luar Biasa! Saya...

Pernyataan Menag Yaqut tersebut sebelumnya disampaikan lewat rekaman video resmi yang dikeluarkan Kementerian Agama.

“Kepada saudaraku masyarakat Baha’i di manapun berada, saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Naw Ruz 178 EB,” imbuh Yaqyt, Kamis 29 Juli 2021 kemarin, seperti dilansir Liputan6.com, Jumat 30 Juli 2021.

Baca Juga: Perayaan Hari Suci Saraswati, Menag Yaqut Singgung Moderasi Beragama dan...

Menag Yaqut lalu menjelaskan makna yang terkandung di hari raya tersebut. Hari Raya Naw Ruz artinya sebuah pembaharuan bagi umat Baha’i setelah menjalankan ibadah puasa selama 19 hari.

Lantas, agama apakah tersebut? Apakah merupakan sekte atau aliran?

Berikut sejumlah hal terkait agama Baha’i yang kini tengah jadi perbincangan hangat usai Menag Yaqut Cholil Qoumas mengucapkan selamat hari raya:

Baca Juga: Perayaan Hari Suci Saraswati, Menag Yaqut Singgung Moderasi Beragama dan...

Didirikan Baha’ullah

Di Indonesia disebutikan sejarah agama Baha’i dimulai dua orang pelopor yang diutus pendiri Baha’i, Baha’ullah. Keduanya adalah Sulayman KhanTunukabani (Jamal Effendi) yang berasal dari Iran berusia 65 tahun, dan pemuda dari Iraq Sayyid Mustafa Rumi berusia 33 tahun.

Dua orang tersebut menginjakan kaki ke Indonesia pertama kali di Batavia yang kini bernama Jakarta pada 1885.

Masuknya Agama Baha’i ke Asia

Dikutip dari bahai.id, situs yang berisi tentang kegiatan dan komunitas Baha’i, menjelaskan tentang sejarah agama Baha’i masuk di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Disebutkan dalam laman itu, Baha’ullah ini menugaskan Jamal Effendi untuk melakukan perjalanan ke India.

“Ia tiba di India sekitar 1875. Selain mengunjungi beberapa wilayah di India, ia juga mengunjungi Sri Lanka,” tulisnya.

Pada perjalanan-perjalanan berikutnya, Jamal Effendi didampingi Sayyid Mustafa Rumi termasuk kunjungan ke Burma, Myanmar pada 1878 dan juga ke Penangsekitar 1883.

Pada sekitar 1884-1885, mereka meninggalkan usaha dagang mereka di Burma dan kembali melakukan perjalanan ke India. Dari sini, mereka melanjutkan perjalanan ke Dacca, yang kini dikenal dengan nama Dhaka, ibu kota Bangladesh.

“Kemudian ke Bombay dan setelah tinggal di sana selama tiga minggu, mereka pergi ke Madras,” imbuhnya.

Ketika Tiba di Jakarta

Dari Madras, mereka berlayar ke Singapura ditemani dua orang pelayan yaitu Shamsu’d-Din dan Lapudoodoo dari Madras. Setelah mendapatkan izin untuk berkunjung ke Jawa, mereka tiba di Jakarta yang kala itu bernama Batavia.

“Mereka ditempatkan di pemukiman Arab, Pakhojan. Mereka hanya diizinkan untuk mengunjungi kota-kota pelabuhan di Indonesia oleh pemerintah Belanda,” demikian tulisan laman mereka.

Sayyid Mustafa Rumi, yang sangat berbakat dalam mempelajari bahasa, segera menguasai bahasa Melayu, menambah daftar panjang bahasa-bahasa yang telah dikuasainya. Dari sini mereka berkunjung ke Surabaya, dan sepanjang garis pantai, mereka juga singgah di Pulau Bali dan kemudian Lombok.

“Di sini, melalui kepala bea cukai, mereka diatur untuk bertemu dan disambut raja yang beragama Buddha dan permaisurinya yang beragama Islam, dan mereka berbicara mengenai hal-hal kerohanian dengan raja dan permaisurinya,” tulisnya.

Penyebaran Baha’i Sampai di Makassar

Saat sampai di Makassar, Jamal Effendi didampingi Sayyid Mustafa Rumi menggunakan sebuah kapal kecil mereka berlayar ke pelabuhan Parepare. Mereka disambut Raja Fatta Arongmatua Aron Rafan dan anak perempuannya, Fatta Sima Tana.

“Fatta Sima Tana, belakangan, menyiapkan surat-surat adopsi untuk dua orang anak asli Bugis, bernama Nair dan Bashir, untuk membantu dan mengabdi di rumah di Akka. Sang Raja juga sangat tertarik dengan agama baru ini. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke Sedendring, Padalia, dan Fammana,” jelas laman mereka.

Dengan menggunakan sampan, mereka melanjutkan perjalanan sepanjang sungai sampai mereka tiba dengan selamat di Bone. Di sini, Raja Bone, seorang pria muda dan terpelajar, meminta mereka untuk menyiapkan suatu buku panduan untuk administrasi kerajaan dan Sayyid Mustafa Rumi, melaporkan mereka telah menulisnya sejalan dengan ajaran-ajaran Baha’i.

“Karena batas kunjungan empat bulan yang secara tegas diberikan Gubernur Belanda di Makassar, mereka meninggalkan Sulawesi (Selatan) menuju ke Surabaya dan kemudian kembali ke Batavia,” demikian imbuh tulisan dalam mereka.

Memiliki Majelis Rohani Nasional Baha’i

Penyebaran agama Baha’I di Indonesia yang melalui asimilasi budaya terus menerus mencapai pengikut hingga mereka memiliki Majelis Rohani Nasional Baha’i (MRN) sebagai pusat administrasi dan pusat kegiatan keagamaan.

Bukan Sekte atau Aliran

Sementara itu, peneliti utama Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kemenag, Nuhrison M Nuh mengungkapkan, agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte atau aliran dari agama lain, termasuk Islam.

Pernyataan itu disampaikan dalam acara seminar hasil penelitian yang diselenggarakan Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Acara itu berlangsung pada 22 September 2014 lalu di Jakarta.

Nuhrison mengungkapkan, salah satu temuan dari penelitian adalah tidak ditemukannya fakta tentang keterkaitan antara agama Baha’i dengan agama apapun, termasuk Islam.

Ia menambahkan, konsep ajaran agama Baha’i memiliki ciri khas yang berbeda dengan konsep keagamaan di dalam Islam. Begitu pula dalam tata cara peribadatan.

“Meskipun tampaknya memiliki kesamaan dengan peribadatan Islam (seperti sembahyang, puasa, ziarah dan lainnya), tetapi pada praktiknya tata cara peribadatan yang mereka lakukan sama sekali berbeda,” paparnya seperti dikutip dari Kemenag.go.id.

Nuhrison mencontohkan, dalam pelaksanaan sembahyang misalnya para penganut Baha’i mengerjakan sembahyang sebanyak tiga kali dalam sehari.

Kiblat yang dijadikan sebagai arah sembahyang pun juga berbeda. Jika umat Islam menghadap ke arah Mekkah, maka umat Baha’i sembahyang menghadap Barat Laut (Kota Akka-Haifa).

Bagikan