Interfaith dan Islamophobia -02

Terkini.id – Sesungguhnya interfaith atau interaksi antar pemeluk agama di dalam hidup rasulullah SAW sendiri bukan sesuatu yang asing. Kita diingatkan kembali oleh sejarah isteri pertama beliau, Khadijah R.A, yang ternyata dari kalangan keluarga kristiani di Mekah. 

Belakangan ketika Muhammad SAW menerima wahyu pertama justeru sepupu Khadijahlah (Waraqah bin Naufal) yang memberikan dukungan moral, bahkan berjanji kelak jika diberikan umur panjang akan menjadi pengikut Rasulullah SAW.

Yang pasti interfaith atau interaksi Rasul dan pengikut agama lain bukan dengan seminar atau konferensi maupun ceramah. Tapi dalam bentuk relasi kehidupan nyata antara Rasulullah SAW dan umat beragama lain. 

Baca Juga: Perusahaan Amerika Serikat Jajaki Peluang Investasi Industri Terbarukan di Bantaeng

Sebagian catatan sejarah itu saya sampaikan di bawah ini: 

Pertama, ketika Rasulullah SAW dan pengikutnya mengalami tantangan berat dari pembesar Mekah, bahkan siksaan yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata. 

Baca Juga: Temui Bupati Bantaeng, CEO Perusahaan Amerika Serikat Jajaki Peluang Investasi...

Di saat seperti itu Rasulullah SAW memerintahkan sebagian pengikutnya untuk melakukan hijrah ke sebuah negeri yang penduduknya beragama Nasrani. Negeri itu adalah Habasyah atau lebih dikenal dengan Ethiopia saat ini. 

Raja negeri itu adalah seorang Nasrani yang sangat taat. Sangat beragama,  santun dan bijak. 

Raja Najasyi namanya. Beliau saat itu menerima pengikut Muhammad SAW dan melindunginya, bahkan ingin mendengarkan penjelasan tentang agama/keyakinan pendatang itu. 

Baca Juga: Temui Bupati Bantaeng, CEO Perusahaan Amerika Serikat Jajaki Peluang Investasi...

Pimpinan pengungsi ketika itu, sepupu Rasulullah SAW Ja’far bin Abi Talib, membacakan ayat-ayat tentang kehidupan Isa dan Ibunya Maryam AS.

Mendengarkan ayat-ayat itu menjadikan sang raja meneteskan air mata. Nuraninya tersinari oleh kebenaran ayat-ayat Al-Quran.

1 2
Selanjutnya
Bagikan