Terkini.id, Jakarta – Petugas kesehatan yang menangani Covid-19 mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat menjalankan tugasnya di Surabaya.
Petugas yang bekerja di puskesmas di Surabaya tersebut, dilumuri kotoran oleh keluarga pasien saat akan menjemput pasien.
Saat itu, petugas sudah memakai memakai pakaian alat pelindung diri (APD) lengkap.
Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara mengungkapkan peristiwa itu terjadi di Rusun Bandarejo Surabaya.
“Kejadiannya tanggal 29 kemarin,” kata Febri, dikutip dari suryacoid, Rabu 30 September 2020.
- Semifinal AAS Cup II 2026 Digelar Hari Ini, Alumni Unhas Berebut Tiket Final
- Haji Mabrur Tak Hanya Ritual, Tetapi Juga Kepedulian Sosial
- Semarak Pasar Murah di Lokasi TMMD, Warga Arungkeke Palantikang Bersyukur Kebutuhan Pangan Terjangkau
- Momen Mengharukan, 16 Tahun Menanti, Syifa Akhirnya Dipeluk Sang Ibu
- Tingkatkan Kesehatan Mental, Tim BK S2 UNM Uji Program Psikososial-Spiritual Murid SD di Makassar
Kejadian terjadi saat Pemkot Surabaya menggelar tes swab di rusun tersebut pada 23 September 2020 kemarin. Kemudian hasilnya keluar 28 September.
Petugas puskesmas lalu melakukan tracing atau pelacakan kepada pasien dengan inisial Mr X.
“X ini ternyata ada komorbidnya, sehingga harus dibawa ke rumah sakit rujukan, harus dibawa ke BDH,” terang Febri.
Namun, keluarganya menolak, terutama istri dan anak keduanya.
Pemkot pun akhirnya melakukan mediasi antara Satgas, pihak kecamatan dengan anak pertama pasien tersebut.
Lantaran sudah menemui kata sepakat, petugas pun akhirnya akan membawa pasien tersebut untuk dirawat di rumah sakit.
Namun, istri dari pasien ini masih saja menolak.
Petugas yang sudah mengetahui gelagat keluarga ini akan melancarkan perbuatan tak menyenangkan itu, sudah berusaha mengingatkan.
“Namun, tetap saja enggak nerima, terus gitu ke baju hazmatnya petugas,” ujar Febri.
Petugas memang tak melawan. Sebab, mereka menyadari tengah menjalankan tugas kemanusiaan.
Pasien itu akhirnya dapat dibawa untuk dirawat di rumah sakit. Seluruh keluarga pasien pun menjalani swab.
Ia berharap kejadian ini tak terulang. Sebab, dalam situasi seperti ini kesadaran bersama menjadi poin penting.
Apalagi, situasi wabah ini belum sepenuhnya reda.
“Ini kan untuk kebaikan bersama, agar bisa terus memutus mata rantai ini, penyakit ini bukan aib,” ucap Febri.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
