Jenazah ABK Dilarungkan ke Laut karena Kapten Takut Virus: Alasannya Klise, Usut Tuntas!

Alfatah, pelaut asal Enrekang yang meninggal dunia dan jasadnya dilarungkan ke laut.(ist)
Alfatah, pelaut asal Enrekang yang meninggal dunia dan jasadnya dilarungkan ke laut.(ist)

Terkini.id, Makassar – Kabar memilukan menimpa keluarga Muh Alfatah (20), seorang pelaut asal Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Alfatah dikabarkan meninggal dunia di sebuah kapal yang berlayar di luar negeri.

Namun, jenazahnya tidak dibawa pulang, tetapi dihanyutkan ke laut. Kapten kapal disebutkan terpaksa menghanyutkan jenazah Alfatah di laut karena dikhawatirkan ABK (Anak Buah Kapal) lainnya tertular penyakit yang diderita Alfatah.

Mengetahui kabar tersebut, anggota DPRD Sulsel, Rahman Pina, menyampaikan kritiknya dan meminta Kementerian Luar Negeri untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Rahman Pina mengungkapkan, kasus tersebut harus diselidiki oleh pihak Kementerian Luar Negeri.

Menarik untuk Anda:

“Alfatah meninggal lalu jasadnya dibuang ke laut. Kapten kapal takut jenazah menyebarkan virus. Alasannya terlalu klise. ahh,” tulis Rahman Pina melalui postingannya media sosial.

Rahman Pina mengaku sangat miris mengetahui peristiwa tersebut, lantaran Alfatah adalah sekampungnya.

“Kampungnya di Banca ( Banca, Desa Bontongan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang), tidak jauh dari sekolah SMA saya dulu, SMA Cakke,” tulisnya lagi.

Rahman mengungkapkan banyak teman sekolahnya dari kampung itu, dan semuanya adlaah pelajar yang tekun, pekerja keras serta begitu taat beribadah.

Mimpi Anak Enrekang untuk Berlayar

Dia pun menceritakan, bahwa di kampungnya banyak anak muda yang bercita-cita menjadi pelayar.

“Ketika kita bertamu, jangan heran dengan deretan foto di ruang tamu keluarta. Terpampang tapi –kebanyakan uniform anak-anaknya yang sekolah pelayaran,” tulisnya lagi.

Itulah sebabnya, sekolah-sekolah pelayaran di Sulsel selalu diramaikan oleh siswa maupun mahasiswa dari Enrekang.

“Suatu ketika saya ke Jakarta, ketemu sahabat saya, Jufri Bagunis. Kampungnya di Tongko, Baroko (Enrekang). Ia membawa puluhan anak dari kampungnya di kamar (hotel).

Seperti di dek kapal, mereka berjejer, ada yang duduk di lantai sambil tiduran, macam-macam. Sebelum mereka pergi, saya tanga: bikin apa di Jakarta? ternyata sambil menunggu kapal. Siap mengarungi samudera untuk hidup dan membahagiakan keluarga,” katanya lagi.

Seperti diketahui, keluarga Alfatah di Dusun Banca, Desa Bontongan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan mendapat kabar melalui Surat Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler Kementrian Luar Negeri pada Minggu, 19 Januari 2020.
Surat tersebut yang didasarkan pada laporan agen penyalur ABK Ming Feng International (MFI) yang berlokasi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) diketahui bahwa sebelum meninggal, Al Fatah lebih awal merasa tidak enak badan dengan kondisi bengkak pada kaki, dan wajah, serta nyeri yang dialami pada bagian dada.

Saat itu, kondisi Alfatah yang sudah diberi obat oleh Kapten Kapal Longxing 629 tidak mengalami perubahan hingga kahirnya dipindahkan ke Kapal Long Xing 802 untuk dibawa ke rumah sakit.

Namun, Al Fatah kemudian dinyatakan meninggal dunia 8 jam setelah dipindahkan, lalu tanpa sepengetahuan agen penyalur kapten kapal tersbeut membuang jasad Alfatah karena khawatir akan adanya penyakit menular yang dapat menjangkiti ABK lainnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Breaking News: 7 Orang Warga Jeneponto Meninggal Saat Antar Uang Panaik

Pesawat Kalibrasi Hawker 900 XP Sukses Mendarat di Bandara Buntu Kunik Toraja

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar