Jubir Klarifikasi Omongan Ma’ruf Soal Derajat Kematian Ulama, Tak Bermaksud Merendahkan Pihak Lain

Terkni.id, Jakarta – Juru Bicara Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Masdiku Baidlowi memberikan klarifikasi terkait pernyataan Ma’ruf soal derajat kematian para ulama atau kiai yang disampaikan beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Ma’ruf Amin menyoroti kematian para tokoh Islam yakni ulama serta kiai akibat pandemi Covid-19.

Ma’ruf mengatakan bahwa kematian para ulama serta kiai lebih berarti daripada kematian satu suku.

Baca Juga: Wakil Presiden Ma’ruf Amin Minta MUI Segera Membuat Fatwa Terkait...

“Meninggalkan para kiai, ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tidak bisa ditambal,” ucap Ma’ruf beberapa waktu lalu.

“Wafatnya para kiai dan ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih ringan daripada meninggalkan seorang ulama,” tuturnya.

Baca Juga: Pengamat Politik Sebut Tokoh Ini Bisa Jadi Kuda Hitam di...

Sontak, pernyataan tersebut mengundang berbagai reaksi para warganet di media sosial.

Banyak yang mengatakan bahwa pernyataan Wakil Presiden tersebut dinilai merendahkan pihak-pihak tertentu.

Atas hal tersebut, Masduki lantas memberikan klarifikasi terkait pernyataan tersebut.

Baca Juga: Pengamat Politik Sebut Tokoh Ini Bisa Jadi Kuda Hitam di...

Masduki menjelaskan bahwa Ma’ruf sama sekali tidak memiliki niat untuk membeda-bedakan satu pihak dengan pihak yang lainnya, terlebih jika menganggap merendahkan pihak tertentu.

Masduki menegaskan bahwa apa yang diucap oleh Ma’ruf hanya sebuah kutipan yang diambilnya dari sebuah Hadist riwayat Al-Thabrani.

“Pernyataan Wapres yang mengutip hadis riwayat Al-Thabrani itu bukan dengan intensi merendahkan siapa pun. Sekali lagi, itu kutipan hadis. Bukan pernyataan pribadi Wapres,” ucapnya dikutip terkini.id dari wow keren, Senin, 9 Agustus 2021.

Ia menjelaskan bahwa kutipan yang diambil oleh Ma’ruf harus dipahami secara mendalam dan utuh.

“Namun pengutipan hadis itu perlu dipahami dalam konteks sambutan Wapres yang utuh,” terangnya.

“Konteksnya adalah untuk memberi gambaran tentang betapa dalamnya rasa kehilangan kita dengan wafatnya ulama,” pungkasnya.

Bagikan