Kaffah

Kaffah

HZ
Firdaus Muhammad
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Kaffah

PUISI singkat yang pernah dibukukan dalam 100 puisi qur’ani terbaik, itu pertama kusimak ketika sang penyair membacakannya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin atas permintaan sahabatnya, Iqbal Parewangi. Semalam, tepatnya malam 28 Ramadan 1440 H, saat aku bersilaturrahim di kediamannya di Jalan Sehati, Makassar. Terngiang kembali puisi itu.

Tahiyyatku belum sempurna! Sebuah pengakuan yang patut direnungkan. Kita ini diciptakan sempurna, ahsanul khaliqin. Tetapi dalam mengabdikan diri pada Sang Khaliq terasa yang kurang sempurna. Sejatinya setiap hamba “melambatkan diri” dari berbagai kesibukannya agar ada raung waktu untuk Allah azza wa jalla.

Aku juga teringat penggalan puisi Gus Mus, Tuhan Aku terlalu sibuk. Benar, kita terlalu sibuk sehingga tahiyyat-tahiyyat kita yang tidak sempurna itulah yang menjadi penghalang Allah menangguhkan penerimaan akan keberadaan kita. Hidup mati kita belum total kita arahkan padaNya. Godaan duniawi kadang menjadi pengalih. Wa mal hayatudduniyaa illa mata’ul gurur…(Tiadalah kehidupan dunia melainkan kesenangan yang menipu. Al-Hadid:20).

Kenapa masjid-masjid di akhir Ramadan makin sepi. Bukankah Rasulullah justru mengingatkan agar menyempurnakan amaliah Ramadan. Memperbanyak itikaf pada malam-malam terakhir. Mereka yang melambatkan diri dari aktifitas duniawi, fokus beribadah, adalah adalah orang-orang yang dirindukan surga, Ramadan adalah perjalanan spiritual untuk kembali ke diri yang fitri. Mereka inginkan kesempurnaan, tapi gugur di tengah ramadan. Mall dengan tradisi belanja lebih menyilaukan dibanding kerinduan pada cahaya ilahiyah.

Manusia diciptakan sempurna sejatinya juga menjadi pribadi yang kaffah dalam pikiran dan perbuatan. Manusia memiliki kekhilafan, tapi sebaik-baik orang yang khilaf adalah yang mengakui kekhilafan itu dengan bertaubat. Kenyataannya, banyak yang kini terang-terangan meninggalkan perintah Allah bahkan bangga tidak berpuasa atau dengan kata lain sengaja tanpa ada uzur sedikitpun. Banyak di antara kita yang lebih memilih bersunyi-sunyi dengan smartpohone dibanding mendaras kalam-kalam Allah untuk berdialog dengan-Nya.

Betapa kita acapkali abai pada pesan-pesan ilahiyah. Kata kaffah dalam Alquran bukan penghias tapi sarat makna. Sesungguhnya kita diciptakan sempurna, tapi kenapa tahiyat belum sempurna seperti rintihan sang penyair. Jangan-jangan Ramadan akan kembali berlalu tanpa tersimpan jejak pada diri pribadi kita.

Kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Bagaimana mungkin meraih kesempurnaan diri tanpa selaras dengan perintah sang khalik yang maha sempurna. Kesibukan dunia kadang justru meninggalkan lubang menganga berupa kehampaan hidup. Mungkin sejenak kita melambatkan diri dari kehidupan duniawi untuk kembali menghadirkan Allah dalam nafas kehidupan kita sebagai mahluk dengan berbagai kealpaannya.

Penghujung Ramadan inilah yang menjadi titik balik kita. Menjawab pertanyaan sang penyair… bagaimana mungkin aku memahamimu seluruh, jika tahiyyatku belum sempurna kuarahkan padamu. Saatnya tahiyyat kita arahkan dengan sesempurna padaNya. Bagaimana mungkin kau menerimaku seluruh, jika hidup dan matiku belum sepenuhnya untukmu. Berharap sang khalik akan menerima kita, mengijabah doa kita, menerima amaliyah kita. Menerima dan mengakui kita sebagai hamba yang hidup matinya sepenuhnya untuk-Nya.

Firdaus Muhammad

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin dan Pengurus MUI Sulsel

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.