Terkini.id, Jakarta – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebelumnya merilis kalung ‘antivirus’ corona yang akan diproduksi massal oleh Kementerian Pertanian pada Agustus 2020 mendatang.
Mantan Gubernur Sulsel dua periode itu menyebut, kalung buatan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan tersebut mampu mematikan COVID-19.
Akibat pernyataan itu, banyak netizen yang mencibir bahkan mengolok-olok kalung buatan Kementerian Pertanian tersebut.
Sejumlah netizen tidak percaya, virus covid-19 yang vaksinnya masih sedang dalam proses pengujian bisa ditangkal dengan menggunakan kalung buatan Kementerian Pertanian.
Di media sosial, khususnya twitter, bahkan ramai tagar #kalungantibego sebagai bahan olok-olok dan candaan terhadap kalung anticovid buatan Kementan tersebut.
- Anggota DPRD Makassar Irwan Hasan Dorong Warga Aktif Laporkan Kendala Layanan di Kecamatan Mariso
- Proyek MYP Sulsel Dikebut, Lima Paket Jalan Tunjukkan Progres Signifikan
- Baim dan Artika Ikut Ramaikan Peluncuran Taro Waterpark, Destinasi Petualangan Keluarga di Makassar
- Telkomsel Hadirkan Wi-Fi untuk Rumah dengan Banyak Sekat dan Kamar, Lebih Stabil dan Optimal
- Halal Bihalal Bersama Forkopimda Luwu Timur, PT Vale Jaga Komitmen untuk Kemajuan Daerah
“Maksudnya ini gimana ya, emangnya kalau udah pake kalung ini terhindar dari corona, Ya Allah kenapa negeri ini suka bercanda, bercanda nya jelek, #KalungAntiBego,” tulis akun @aryaput07.
“There is a strong reason why i dont put my country’s name in any of my public bio. #KalungAntiBego,” tulis Herb Intan_Widia.
“Mau dong #KalungAntiBego Becanda mulu ini pemerintah Kalo gak becus gak usah maksain mening pada mundur dah sbelum makin ancur negara aing,” tulis @Kahfi_Ananda00.
“Ngapain sih mentan ini ngurusin kalun, kan harusnya Mentan itu ngurujin haji sma pendidikan #Kalunganti bego,” tulis akun @donie4340.
Seperti diketahui, Syahrul Yasin Limpo sebelumnya menyampaikan bulan Agustus kalung tersebut akan dicetak. “Kami yakin bulan depan sudah dicetak, diperbanyak,” ucap Syahrul dalam konferensi pers di Kementerian PUPR, Jumat 4 Juli 2020dikutip dari tirto.id.
Ahli Farmakologi, Prof. Zullies Ikawati pun mengomentari terkait produk tersebut melalui wawancara eklusif di TV One 4 Juli 2020.
“Mungkin yang perlu dijelaskan kepada masyarakat adalah bahwa bentuk kalung anticorona itu bukanlah seperti kalung yang kita bayangkan, namun semacam “aksesori aromaterapi”, yang bukan cuma dikalungin, tetapi digunakan dengan cara dihirup-hirup, dengan aturan tertentu (misal berapa kali sehari).
Jadi prinsipnya adalah semacam menggunakan inhaler begitu, yang dibuat dalam bentuk kalung, mungkin biar ngga jatuh-jatuh dan gampang ilang.” terang Guru Besar dari Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada ini.
“Hal yang perlu diperhatikan adalah klaim efek antivirusnya, yang masih perlu dibuktikan. Perlu dipastikan apakah dosis yang berefek sebagai antivirus yang digunakan pada uji in vitro dapat tercapai ketika digunakan dalam aromaterapi atau dengan cara dihirup-hirup.
Apalagi disebutkan juga di media bahwa dengan memakai kalung anticorona tersebut selama 15 menit, dapat membunuh 42% virus; jika dipakai 30 menit dapat membunuh 80% virus corona.
Angka-angka itu didapat dari mana? Jika itu dari hasil uji invitro tentunya tidak pas, karena cara pemaparannya juga berbeda.
Selain itu, klaim antivirus merupakan klaim yang tinggi, yang tidak bisa digunakan untuk sediaan herbal dengan kategori jamu,” terang Prof. Zullies.
Zullies mengungkapkan, melalui akun facebook pribadinya bahwa Kalung nanti akan berisi eucalyptus oil (sejenis minyak kayu putih).
Eucalyptus oil sendiri sudah banyak diteliti dan memiliki efek anti virus, termasuk pada virus corona. Sejauh ini memang belum dicoba langsung dengan virus SARSCoV-2, akan tetapi karena mirip maka diduga bisa juga untuk antivirus COVID-19.
“Minyak kayu putih sebagai pelega pernafasan, menghangatkan badan, menyamankan tenggorokan, memang sudah dipakai bertahun-tahun secara empiris oleh masyarakat. Jadi sebagai terapi simptomatik COVID, it’s OK.
Mungkin akan lebih bijak untuk berhati-hati menyatakan klaim antivirus ketika sudah bakal digunakan pada manusia.
Memposisikan minyak kayuputih sebagai terapi supportif Covid-19 sudah sangat baik. Saya sendiri suka meneteskan minyak kayuputih pada tissue yg saya pasang di masker. Harumnya khas, hangat dan melonggarkan nafas. Tapi apakah masih bisa berefek sebagai antivirus dengan dosis yg terhirup, saya tidak bisa menjawabnya.” tegas Prof. Zullies.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
