Terkini.id, Jakarta – Beberapa netizen mengecam Wakil Presiden (Wapres), Ma’ruf Amin yang mengatakan bahwa meninggalnya satu suku lebih ringan daripada meninggalnya seorang ulama.
Bahkan, ada netizen yang menilai bahwa statement Wapres itu lebih gila dari pernyataan-pernyataan Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Adapun protes para netizen ini diperoleh Terkini.id dari unggahan seorang netizen dengan nama akun Miduk17 pada Sabtu, 7 Agustus 2021.
Miduk17 menilai bahwa persepsi Ma’ruf itu salah sebab menilai bahwa ulama seolah lebih tinggi dibanding manusia lain.
“Padahal lahir sama-sama telanjang, dikubur sama-sama di tanah. 1 nyawa = 1 nyawa, bukan 1 nyawa > 1 suku. Ini yang bikin pemuka agama seenaknya memfitnah, semua akan tunduk-tunduk,” katanya.
- Kepesertaan JKN 98,19 Persen, Indonesia Sabet Predikat UHC Jelang HUT RI ke-79
- Wapres Ma'ruf Amin Nilai Film Dirty Vote Bagian dari Dinamika Politik
- Dalam perayaan Migrants Day 2023, Benny Rhamdani Harap Ada Dana Abadi Bagi Pekerja Migran Indonesia
- Menko Polhukam Pimpin Rapat Terkait Penampungan Warga Rohingya
- Kementan dan TNI Perkuat Sinergi, Mentan : Ketahanan Pangan Identik Dengan Ketahanan Negara
Pernyataaan netizen itu kemudian banyak didukung oleh netizen lainnya di kolom komentar.

“Ini wapres statement nya lebih gila dari statement HTI dan FPI,” kata FerryNLangelo.
“Kacau. Ndak jauh dari ayat, mayat, syariah. Kerjanya selama ini ndak jelas apa,” kata Radh3308.
“Ini namanya mengagungkan diri sendiri. Sampe harus dijaga. Harusnya lebih mementingkan menjaga lisan, pikiran dan perbuatan untuk kedamaian semua umat,” kata Cintapemuja78y2.
Dilansir dari Galamedia News, pernyataan Ma’ruf soal nyawa ulama itu disampaikan dalam acara Peluncuran Program ‘Kita Jaga Kiai’ yang diselenggarakan secara virtual pada Senin, 2 Agustus 2021.
Awalnya, Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa hingga saat ini, sudah ada 605 kiai dan ulama ataupun pengasuh pondok pesantren yang meninggal akibat terpapar Covid-19.
Oleh sebab itu, Wapres meluncurkan Program ‘Kita Jaga Kiai’ yang diinisiasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Kementerian Agama (Kemenag).
“Program ini salah satu bentuk penghargaan pemerintah dalam menjaga kesehatan para kiai dan pengasuh pesantren yang telah berjasa bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Wapres Ma’ruf mengatakan bahwa meninggalnya para kiai dan ulama mempunyai arti yang sangat penting dan krusial bagi kehidupan umat.
Bahkan, katanya, Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa ulama merupakan pewaris para nabi.
Oleh karena itu, wafatnya ulama diungkapkan oleh Rasulullah sebagai sebuah musibah yang tak tergantikan dan sebuah kebocoran yang tidak bisa ditambal.
“Wafatnya para kiai dan ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih ringan daripada meninggalnya seorang ulama,” jelas Ma’ruf.
Klarifikasi Ma’ruf Amin
Pernyataan Wapres KH Ma’ruf Amin terkait wafatnya ulama dengan mengilustrasikan perbandingan wafatnya satu kabilah dengan satu orang kiyai, mendapat persepsi dan amplifikasi yang berbeda oleh sebagian netizen.
Jubir Wapres, Masduki Baidlowi pun menyampaikan klarifikasi.
Masduki mengungkapkan, pernyataan Wapres tersebut mengutip hadis riwayat Al-Thabrani, dan bukan dengan intensi merendahkan siapapun.
“Sekali lagi, itu kutipan hadis. Bukan pernyataan pribadi Wapres,” jelas Masduki dalam keterangan resmi yang diterima terkini.id.
Pernyataan wapres tersebut sebelumnya ramai di media sosial dan dimaknai berbeda oleh sebagian netizen.
Lebih lanjut, Masduki menjelaskan, hadis tersebut dikutip dan diterjemahkan Wapres apa adanya, tanpa ditambah-tambahi. Namun, pengutipan hadis itu perlu dipahami dalam konteks sambutan Wapres lebih utuh. Konteksnya adalah untuk memberi gambaran tentang betapa dalamnya rasa kehilangan kita dengan wafatnya ulama.
Momentum pernyataan itu, terang dia, saat Wapres tengah memberi apresiasi program Baznas bertajuk “Kita Jaga Kyai”.
Kyai adalah sebutan untuk ulama di Indonesia. Ulama itu figur berilmu. Dalam sambutan itu, Wapres tidak membatasi ahli ilmu hanya pada bidang agama, tapi juga ilmuwan dan cendekiawan secara luas.
“Dalam beberapa bulan terakhir, banyak kyai, ulama, pengasuh pesantren, cendekiawan, ilmuwan Indonesia yang meninggal dunia,” kata Wapres Ma’ruf Amin.
Karena dalam acara Baznas, yang mengelola dana sosial Islam, yakni zakat, infak dan sedekah, Wapres merujuk perspektif Islam tentang musibah wafatnya ilmuwan, para ahli ilmu, para alim, dan ulama.
Wapres menguraikan peran penting ulama dalam tiga aspek: keagaman, peradaban, dan kebangsaan. Dari sisi keagamaan, ulama adalah pewaris para Nabi. Dari sisi peradaban, ulama berperan dalam transformasi ilmu dan peradaban. Dari sisi kebangsaan, ulama mengajarkan sikap patriotik, cinta tanah air, bela negara, dan perjuangan kemerdekaan.
“Para kyai dan ulama sebagai pewaris para Nabi telah mentransformasikan ilmu dan peradaban, menjaga, mendidik dan melakukan berbagai perbaikan di segala bidang,” kata Wapres.
“Para kyai dan ulama juga mengajarkan sikap patriotik, cinta tanah air (hubbul wathan) dan bela negara. Jasa dan peran besar para kyai, para ulama dan pondok pesantren terhadap perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa sangat besar. Tidak bisa dihargai dengan sekadar materi,” ungkap Wapres.
Untuk memperkuat narasi tersebut, Wapres mengutip hadis, yang lengkapnya:
مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ
“Meninggalnya seorang ulama adalah musibah yang tak tergantikan, sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal, laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih ringan dari meninggalnya satu orang ulama.” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).
Nada dan intensi hadis itu bukan untuk merendahkan wafatnya orang satu kabilah. Kalimat itu perlu dipahami sebagai ungkapan ilustratif, kiasan, atau amtsal, untuk menghargai sosok ulama dan ilmuwan di tengah masyarakat.
Wafatnya orang satu suku atau satu kabilah jelas sebuah musibah besar, sebuah kehilangan besar, dan wafatnya seorang ulama adalah musibah yang jauh lebih besar. Demikian pemaknaannya. Jadi, sama sekali bukan untuk merendahkan peristiwa wafatnya orang satu suku.
Jangankan kehilangan nyawa satu suku, dalam Islam, kehilangan satu nyawa saja adalah sebuah catatan serius. Tidak mungkin direndahkan. Maka satu dari lima tujuan utama syariah atau maqashidus syari’ah adalah menjaga jiwa (hifdhun nafs).
“Surat Al Maidah ayat 32 menyatakan, siapa yang membunuh satu orang secara tidak sah, setara dengan membunuh seluruh manusia, terang Masduki lagi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
