Keputusan Itu

Shamsi Ali

SEBUAH keputusan itu tidak selamanya menyenangkan. Jangankan keputusan manusia, yang seringkali penuh dengan intrik kepentingan dan manipulasi.

Keputusan Allah saja, jika tidak sesuai keinginan dan kepentingan, rasanya tidak menyenangkan dalam rasa Kemanusiaan kita.

Tapi percayalah, tidak satu apapun yang terputuskan atau diputuskan dalam hidup ini kecuali karena memang intervensi langit. Dan semua keputusan yang telah menjadi fakta di hadapan mata itu adalah yang terbaik, walau terasa pahit.

Keputusan manusia itu tidak selamanya menggambarkan kebenaran. Dan sudah pasti tidak selalu menggambarkan fakta dan realita. Kebenaran sejati, fakta dan realita sesungguhnya akan terlihat pada hari di saat tak seorangpun yang mampu mengelak dari kebenaran (haq) itu sendiri.

Di hari Itulah yang benar akan ternampak benar. Dan yang salah salah akan terekspos sebagai kesalahan. Tak akan ada lagi trik-trik untuk membolak balik realita.

Yang benar menjadi salah. Dan yang salah dibenarkan. Karena hari itu kejujuran menjadi dirinya sendiri. Tidak lagi bisa dirampok dan diperkosa.

Maka di hari-hari keputusan politik di negeri ini, kesadaran seperti itu harus terbangun. Keputusan dunia bukan keputusan abadi. Ada masanya terkoreksi dan dipertanggung jawabkan.

Karenanya bagi pendukung paslon 02, keputusan Mahkamah Konstitusi pasti pahit dalam rasa kemanusiaan itu. Tapi yakinlah, ketika rasa itu dibingkai dalam bingkai iman, maka akan mulai tumbuh rasa manis itu.

Bagi pendukung paslon 01, sudah pasti keputusan MK itu manis dalam rasa kemanusiaan. Tapi percayalah ketika manisnya rasa itu tidak ditempatkan pada tempatnya maka lambat laun manis itu membawa penyakit “diabetis” yang mematikan.

Karenanya, untuk kedua pendukung paslon:

1.Terimalah itu sebagai “Qadar” Allah. Yang merasa menang jangan angkuh. Yang merasa kalah jangan galau. Sebuah kepastian langit kerap tidak kita ketahui maknanya.

2. Pendukung masing-masing adalah bagaimana “merespon” secara benar dan sesuai. Yang menang dengan kesyukuran dan tawadhu. Yang belum menang dengan sabar dan muhasabah. Sikap keduanya pasti membawa kebaikan.

3. Tanggung jawab terbesar sekarang adalah “MENGAWAL”. Kedua pihak memiliki tanggung jawab mengawal hasil itu. Paslon 2 dan pendukungnya melakukan pengawalan dari seberang. Biasanya diistilahkan dalam bahasa politik sebagai “oposisi”. Sementara tanggung jawab pendukung paslon 01 jauh lebih besar dan berat.

Karena sesungguhnya mereka wajib mengawal dukungannya itu. Jangan sampai dukungan itu menjadi jembatan kemurkaan. Pendukung pemenang harus memastikan bahwa dukungan itu mengantar kepada kemuliaan.

Kesimpulannya, dari sekarang mari kita KAWAL pemerintahan itu lima tahun ke depan. Ingat, dalam tatanan demokrasi rakyat adalah pemilik kekuasaan tertinggi. Jika kekuasaan itu dibalut dalam selimut keimanan, maka rakyat adalah representasi kekuasaan Ilahi.

Jangan rendahkan apalagi khianati rakyat. Karena itu keangkuhan terbesar kepada Allah, Penguasa langit dan bumi.

Berita Terkait
Komentar
Terkini