Keterlaluan, Taliban Kembali Larang Wanita Afghanistan Bekerja

Keterlaluan, Taliban Kembali Larang Wanita Afghanistan Bekerja

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Kabul – Keterlaluan, Taliban kembali larang wanita Afghanistan bekerja. Saat gerilyawan Taliban berhasil merebut wilayah dari pasukan pemerintah di Afghanistan pada awal Juli 2021 lalu, para milisi dari kelompok itu masuk ke kantor Azizi Bank di kota selatan Kandahar dan memerintahkan sembilan wanita yang bekerja di sana untuk pergi.

Menurut tiga wanita yang bekerja sebagai karyawan dan satu selaku manajer bank, membeberkan jika orang-orang dari kelompok garis keras bersenjata itu mengawal mereka hingga ke rumah masing-masing.

Kemudian, menyuruh mereka untuk tidak kembali ke pekerjaan semula sebagai karyawan bank. Sebaliknya, Taliban menjelaskan kerabat pria dapat menggantikan mereka.

“Sungguh aneh tidak diizinkan bekerja, tetapi sekarang begini,” ungkap Noor Khatera, wanita berusia 43 tahun yang pernah bekerja di departemen rekening bank ketika mengatakan kepada Reuters, Jumat 13 Agustus 2021.

“Saya belajar bahasa Inggris sendiri dan bahkan belajar cara mengoperasikan komputer, tetapi sekarang saya harus mencari tempat di mana saya bisa bekerja dengan lebih banyak perempuan di sekitar,” imbuhnya, seperti dilansir dari tempo.co, Sabtu 14 Agustus 2021.

Baca Juga

Insiden tersebut merupakan tanda hak wanita Afganistan, yang telah diperjuangkan selama 20 tahun terancam sirna jika Taliban merebut Afghanistan.

Taliban yang memerintah Afghanistan dari 1996 hingga 2001, telah menguasai banyak kota terbesar Afghanistan dalam beberapa hari terakhir dan sedang mendekati Ibu Kota Kabul.

Di bawah interpretasi ketat Taliban terhadap hukum Islam, wanita tidak boleh bekerja, anak perempuan tidak diizinkan untuk bersekolah, dan harus menutupi wajah mereka dan ditemani kerabat pria jika mereka ingin keluar dari rumah.

Wanita yang melanggar aturan terkadang mengalami sanksi sosial, bahkan pemukulan yang dilakukan polisi agama Taliban di depan umum.

Selama pembicaraan yang sampai sekarang tidak membuahkan hasil terkait penyelesaian politik dalam beberapa tahun terakhir, para pemimpin Taliban membuat jaminan kepada Barat, wanita akan menikmati hak yang sama sesuai apa yang diberikan Islam, termasuk kemampuan untuk bekerja dan dididik.

Dua hari setelah peristiwa di Azizi Bank, adegan serupa terjadi di cabang pemberi pinjaman Afghanistan lainnya, Bank Milli, di kota barat Herat. Hal itu diungkapkan dua kasir wanita yang juga terundung kasus serupa.

Tiga milisi Taliban yang membawa senjata memasuki cabang bank, menegur karyawan wanita lantaran menunjukkan wajah mereka di depan umum. Wanita di sana berhenti bekerja, mengirim kerabat laki-laki menggantikan mereka.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid tidak menanggapi permintaan komentar Reuters soal dua insiden tersebut. Sementara itu, juru bicara kedua bank yang mendapat perundugan terkait karyawan wanitanya yang dilarang bekerja, tidak menanggapi pertanyaan wartawan.

Menanggapi pertanyaan mengenai prospektif karier wanita ke depannya, dan juga apakah wanita akan diizinkan bekerja pada bank di wilayah yang dikuasainya, Mujahid mengatakan belum ada keputusan yang dibuat pihaknya.

“Setelah sistem Islam ditegakkan, akan diputuskan sesuai hukum. Insya Allah tidak ada masalah,” imbuhnya.

Puluhan wanita Afghanistan yang berpendidikan, menyerukan aksi protesnya terhadap tindakan Taliban di media sosial. Setidaknya, untuk meminta bantuan dunia luar dan mengungkapkan rasa frustrasi mereka.

“Dengan setiap kota runtuh, tubuh manusia runtuh, mimpi runtuh, sejarah dan masa depan runtuh, seni dan budaya runtuh, kehidupan dan keindahan runtuh, dunia kita runtuh,” tulis Rada Akbar di Twitter.

Ia juga menulis, “Seseorang tolong hentikan ini!”

Saat ini, Amerika Serikat (AS) dan kekuatan Barat lainnya mengkhawatirkan tindakan diskriminatif Taliban terhadap wanita. Mereka dianggap bakal membelenggu emansipasi dan kebebasan terkait hak-hak wanita yang telah dibangun mereka selama 20 tahun.

AS dan sekutunya mengklaim, hak-hak wanita yang ditegakkan selama ini disebut-sebut sebagai kontribusi dan salah satu pencapaian terbesar mereka di Afghanistan selama dua dekade. Setidaknya, sejak awal pasukan pimpinan AS dikerahkan di Afghanistan.

Wanita Afghanistan yang bekerja di bidang berbagai sektor termasuk jurnalisme, perawatan kesehatan, dan penegakan hukum, telah tewas dalam gelombang serangan sejak pembicaraan damai dimulai tahun lalu antara Taliban dan pemerintah Afghanistan yang didukung AS.

Pemerintah menyalahkan sebagian besar pembunuhan yang ditargetkan pada Taliban, yang menyangkal melakukan pembunuhan.

“Taliban akan mengalami kemunduran kebebasan di semua tingkatan, dan itulah yang kami lawan,” tegas seorang juru bicara pemerintah Afghanistan.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.