Terkini.id, Jakarta – Di masa pandemi Covid-19, relawan turut berperan, tidak hanya relawan di bidang kesehatan, tapi juga relawan yang bergerak di bidang ekonomi dan sosial, perannya penting dalam membantu meringankan kesulitan, mengingat pandemi telah berdampak ke segala sendi kehidupan masyarakat.
Dampak Pandemi Covid-19 telah menggeluti sendi-sendi perekonomian yang sangat mempengaruhi kehidupan keseharian masyarakat, hal itulah yang menggugah hati dr. Aulia Giffarinnisa untuk mencurahkan tenaga dan pikirannya dalam berjuang menangani Pandemi Covid-19.
“Saya sebelumnya bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah di Sulawesi Selatan, Hati saya ingin berkontribusi dan tidak bisa hanya diam di rumah saja, keputusan jadi relawan itu sudah ada sejak April,” tutur dr. Aulia Giffarinnisa. Dalam dialog produktif menyambut Hari Sukarelawan Internasional dengan tema berbakti untuk kemanusiaan tanpa pamrih”, yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Jumat, 4 Desember 2020.
Lebih lanjut dr. Aulia Giffarinnisa menuturkan, niat untuk membantu tenaga kesehatan dalam menangani Pandemi Covid-19 baru direstui oleh orang tuanya di bulan Agustus 2020.
“Orang tua merestui keinginan saya pada bulan Agustus. Saya mulai bertugas di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet pada bulan September,” ujarnya.
- Beredar Seruan Aksi Dukungan untuk JK,KALLA Minta Semua Pihak Menahan Diri
- Gelar Aksi Ujuk Rasa, NasDem Sulsel Tolak Narasi Pemberitaan yang Dinilai Menyesatkan
- Macawa Fest 2026 Tawarkan Pengalaman Event Berstandar Global
- Syuting di Makassar, "Akal Imitasi" Tampilkan Kritik terhadap Teknologi Pendidikan
- Santomo Hadirkan Layanan GoMolis, Solusi Motor Listrik untuk Ojol di Makassar dan Surabaya
Menurutnya, menangani pasien Covid-19 bukan hal mudah, tenaga kesehatan seperti dr. Aulia harus terus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) selama 8 jam. Bekerja dalam pengap dan menahan haus dan lapar sudah jadi risiko pekerjaannya. Apalagi dr. Aulia bertugas di HCU (High Care Unit) yang merawat pasien Covid-19 dengan kondisi memerlukan perhatian khusus.
“Kami bekerja bergiliran selama delapan jam. Biasanya dari pukul enam pagi sampai jam dua siang. Tapi karena memakai APD kita mulai persiapan dari jam 5 pagi, dan harus puasa selama delapan jam itu, karena kita tidak melepaskan APD bahkan untuk ke toilet. Kalau kita minum pasti ingin ke toilet,” pungkasnya.
dr. Aulia juga menyampaikan harapannya kepada upaya Pemerintah untuk pengadaan vaksin.
“Harapan aku dengan vaksin Covid-19, saya menginginkan untuk secepatnya didistribusi. Saat ini setahu saya vaksin sudah dalam uji klinik fase III, kalau Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) mengizinkan, saya ingin vaksin lebih cepat didistribusikan,” harapnya.
Selama menunggu kedatangan vaksin, dr Aulia juga berpesan, jangan berfikir bahwa kebaikan itu harus besar, tapi minimal dari orang-orang terdekat kita dengan cara mencegah penularan lewat 3M.
“Dengan bersama-sama seperti itu, akan membantu tenaga kesehatan seperti kami untuk mencegah dan mengembalikan kehidupan normal seperti dulu lagi,” tutup dr. Aulia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
