Kisah WNI di Wuhan: Sempat Bermalam di Stasiun Kereta Tersibuk

Salah satu stasiun di Wuhan/ ist

Terkini.id, Yogyakarta – Salah seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Hilya Milla melalui akun sosial medianya, ia membagikan kisahnya selama berada di kota Wuhan, China.

Terkini.id, memantau akun pribadi mahasiswa Jurusan Managemen Bisnis di Universitas Chongqing China tersebut pada Senin 24 Februari 2020.

Menurutnya, akhir Desember 2019 lalu dirinya sempat bermalam di sebuah Stasiun di Hankou di kota Wuhan China.

“Saya sempat bermalam di stasiun Hankou. Salah satu stasiun kereta tersibuk di kota Wuhan yang menghubungkan kota Wuhan dengan kota-kota di China bagian utara dan barat,” tulianya.

Lanjut Hilya menyebutkan bahwa stasiun Hankou lokasinya tidak jauh dengan pasar ikan segar Huanan yang menjadi episentrum wabah Corona. Mereka yg beraktivitas di kedua tempat itulah yang banyak menjadi korbannya.

Baca juga:

“Bukan sekali ini saja saya pernah bermalam di Stasiun Hankou, tapi setidaknya sebulan sekali karena tuntutan studi. Untuk mengejar kereta pemberangkatan subuh menuju kota Chongqing. Kota dimana saya menempuh pendidikan. Sementara saya tinggal di Wuhan bersama suami dan anak, karena suami sedang menempuh studi di Wuhan,” tulisnya lagi.

Saat itu, lanjutnya, kabar tentang virus corona belum ramai di media. Karena masih dikira jenis flu biasa yang tidak mewabah sedemikian dahsyatnya.

“Syukurnya, kembali dari Chongqing dua hari kemudian, saya memilih transportasi udara. Karena tiket kereta sudah tidak tersedia menjelang liburan akhir tahun,” terangnya.

Aktivitas di Wuhan saat itu masih berjalan sebagaimana biasanya. Perayaan malam tahun baru juga berjalan normal tanpa dibayang-bayangi wabah Corona walaupun beritanya mulai beredar di media lokal.

“Saya sekeluarga sempat pergi ke salah satu mal di Guanggu Shopping Street sepulang dari Chongqing untuk membeli bahan kebutuhan sehari-hari,” bebernya.

Awal tahun baru 2020, dia sekeluarga melakukan perjalanan ke kota Yiwu menggunakan kereta. Kereta tersebut berangkat dari stasiun Wuchang. Stasiun tersibuk kedua di Wuhan yang menghubungkan Wuhan dengan kota-kota di Selatan China. Setiap hari semua stasiun di kota Wuhan tidak pernah sepi.

Sekalipun besar dan memiliki ruang tunggu yang luas dengan ratusan tempat duduk, namun tetap saja terasa penuh karena mobilitas warga China yang tinggi apalagi menjelang tahun baru Imlek.

View this post on Instagram

Akhir Desember, saya sempat bermalam di stasiun Hankou. Salah satu stasiun kereta tersibuk di kota Wuhan yang menghubungkan kota Wuhan dengan kota-kota di China bagian utara dan barat. Stasiun Hankou lokasinya tidak jauh dengan Pasar Ikan Segar Huanan yang menjadi episentrum wabah Corona. Mereka yg beraktivitas di kedua tempat itulah yang banyak menjadi korbannya. Bukan sekali ini saja saya pernah bermalam di Stasiun Hankou, tapi setidaknya sebulan sekali karena tuntutan studi. Untuk mengejar kereta pemberangkatan Shubuh menuju kota Chongqing. Kota dimana saya menempuh pendidikan. Sementara saya tinggal di Wuhan bersama suami dan anak, karena suami sedang menempuh studi di Wuhan. Saat itu, kabar tentang virus Corona belum ramai di media. Karena masih dikira jenis flu biasa yang tidak mewabah sedemikian dahsyatnya. Syukurnya, kembali dari Chongqing dua hari kemudian, saya memilih transportasi udara. Karena tiket kereta sudah tidak tersedia menjelang liburan akhir tahun. Aktivitas di Wuhan saat itu masih berjalan sebagaimana biasanya. Perayaan malam tahun baru juga berjalan normal tanpa dibayang-bayangi wabah Corona walaupun beritanya mulai beredar di media lokal. Saya sekeluarga sempat pergi ke salah satu mall di Guanggu Shopping Street sepulang dari Chongqing untuk membeli bahan kebutuhan sehari-hari. Awal tahun baru 2020, kami sekeluarga melakukan perjalanan ke kota Yiwu menggunakan kereta. Kereta tersebut berangkat dari stasiun Wuchang. Stasiun tersibuk kedua yang menghubungkan Wuhan dengan kota-kota di Selatan China. Setiap hari semua stasiun di kota Wuhan tidak pernah sepi. Sekalipun besar dan memiliki ruang tunggu yang luas dengan ratusan tempat duduk, namun tetap saja terasa penuh karena mobilitas warga China yang tinggi apalagi menjelang tahun baru Imlek. Kami menghabiskan waktu tiga hari di kota Yiwu untuk berkeliling di Yiwu International Small Commodities City yang memiliki 6 distrik pusat perdagangan dengan ribuan kios di dalamnya … … (lanjutan di kolom komen).

A post shared by Hilyatu Millati Rusdiyah (@hilya_millah) on

“Kami menghabiskan waktu tiga hari di kota Yiwu untuk berkeliling di Yiwu International Small Commodities City yang memiliki 6 distrik pusat perdagangan dengan ribuan kios di dalamnya,” pungkasnya.

Di kota Yiwu inilah, kabar tentang virus Corona mulai ia ketahui. Banyak kolega dan sahabat yang silih berganti berkirim pesan menanyakan kondisi Wuhan pasca ditemukannya virus flu yang mulai terpublikasi di media pada 30 Desember 2019.

“Namun karena jumlah korban penderitanya yang masih belasan, kami tetap berusaha tenang. Karena lokasi tempat tinggal kami juga jauh dari Pasar Huanan yang menjadi episentrum awal virus Corona,” urainya.

Selasa 5 Januari 2020, mereka sekeluarga pulang dari Yiwu dengan kereta. Berbeda dengan kereta ketika berangkat yang sepi penumpang, kereta kembali menuju Wuhan justru sangat padat hingga tak menyisakan ruang bagasi untuk koper kecil kami.

Memang lumrah di China, warga bepergian dengan kereta membawa banyak barang, dan kadang barangnya justru lebih banyak dari orangnya.

“Sampai di Wuhan, kami memantau terus berita tentang unknown pneumonia outbreak. Demikianlah nama virus itu ketika awal ditemukan. Belum ada korban jiwa di awal Januari. Warga masih beraktivitas seperti biasa. Karena saat itupun jenis virusnya belum diketahui dan belum terkonfirmasi bagaimana cara bertransmisinya,” ujar ibu satu anak ini .

Kamis 9 Januari 2020, ia mengantar suami dan anak menuju Tianhe International Airport untuk pulang ke Indonesia karena libur Winter telah tiba.

“Rencananya saya akan pulang belakangan, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Di MRT menuju bandara, terlihat beberapa orang menggunakan masker, namun tidak dominan. Lagi-lagi MRT ini melewati stasiun Hankou karena memang rutenya demikian,” papar wanita asal Yogyakarta ini.

Di bandara, kata dia petugas masih berpakaian normal tanpa masker apalagi APD yang belakangan sering terlihat di media.

“Semua masih terlihat normal apa adanya. Tidak ada yang mengira Wuhan akan menderita begitu hebatnya,” tutup Hilya melalui tulisan di akun sosial medianya.

Komentar

Rekomendasi

Halal Bi Halal Pemkot Parepare Bersama Ormas Islam dan Forkopimda Digelar lewat Virtual

Menuju Kehidupan New Normal, Taufan Pawe : Kerja TGTPP Harus Benar dan Terukur

Diduga Main Korek di Dalam Mobil yang Ditinggal Mudik, 2 Balita tewas Terpanggang

Pelaku Penyebar Video Syur Mirip Syahrini Ditangkap, Rupanya Fans Luna Maya dan Benci Syahrini

Bupati Bener Meriah Tidak Jadi Mundur, Padahal Sudah Pengumuman Saat Salat Id

Pengusaha Sambut New Normal: Jika Tidak, Terjadi PHK Massal Pada Agustus

Sosok Dokter-Tentara Pembebasan Tiongkok Bongkar Rahasia Besar Virus Covid-19 Wuhan

Kapolsek yang Tabrak 2 Warga hingga Tewas Dicopot dan Dipenjara

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar