Panik Virus Corona

alat berat dikerahkan
Alat berat dikerahkan pemerintah China untuk membangun rumah sakit khusus Corona dalam hitungan hari.(AFP)

PULUHAN alat berat ekskavator dan buldozer meratakan sebidang lahan di kota Wuhan, China, untuk membangun rumah sakit khusus bagi pasien yang terjangkit virus Corona yang tengah mewabah di kawasan itu.

Rumah sakit dengan kapasitas 1.000 pasien rawat inap ini akan dibangun hanya dalam hitungan hari. Ada yang menyebut 10 hari, ada yang lebih singkat, hanya enam hari! Yang jelas, harus tuntas pada 3 Februari 2020.

Dan China memang punya reputasi menakjubkan untuk kisah-kisah ala Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso seperti ini: membangun gedung pencakar langit 33 lantai dalam 15 hari, stasiun kereta api dalam satu malam, dan lain-lain.

Tapi bukan itu masalah dan tantangannya. Pembangunan rumah sakit khusus pasien terjangkit Corona ini tengah berburu dengan waktu, ketika ribuan warga kota Wuhan kini meluruk ke rumah-rumah sakit untuk memeriksakan diri, khawatir dengan virus yang belum ada penangkalnya itu.

Hampir seluruh layanan fasilitas publik telah ditutup di kota Wuhan, dan 11 juta jiwa penduduknya sudah dilarang untuk masuk dan keluar — kendati ada kabar, tak kurang dari lima juta orang telah keluar dengan berbagai cara.

Lalu, kota demi kota di China melaporkan kehadiran virus Corona di wilayahnya, dan segera direspons dengan langkah yang sama. Tak kurang dari 15 kota di China daratan kini ditutup, sekitar 57 juta warga dalam isolasi.

Dari China yang kini berjibaku dengan wabah di depan mata, kabar penyebaran virus Corona telah datang pula dari negara-negara Thailand, Australia, Singapura, Prancis, Jepang, Taiwan, Malaysia, Vietnam, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Nepal.

Dari rangkuman berita-berita soal perkembangan virus Corona ini, kita tahu korbannya belumlah sebanyak wabah SARS belasan tahun lalu, atau TBC dan pes di masa lampau. Sejauh ini, Komisi Kesehatan Nasional China menyampaikan, lebih dari 2.000 orang yang terjangkit dan 80 di antaranya meninggal dunia. Angka permulaan yang sesungguhnya tak begitu banyak.

Akan tetapi, tanggapan pemerintah China dan juga masyarakat dan lembaga-lembaga kesehatan dunia terhadap wabah virus ini telah menimbulkan pertanyaan: mengapa begitu panik? Jangan-jangan sangat berbahaya?

Apalagi aneka tulisan (sebagian berbau hoaks) juga berseliweran tentang penyebaran virus ini: dari soal senjata biologi yang bocor, kematian yang ditutup-tutupi, angka eksponensial korban jiwa dari menit ke menit, plus animasi infografis yang (katanya) gerak penyebaran virus Corona di dunia. Kesimpulannya hanya satu: penangkal virus ini belum ada. Sungguh kita patut khawatir.

Untunglah, manusia adalah makhluk dengan daya tahan yang tinggi terhadap aneka wabah karena fitrahnya sebagai primata yang berpikir. Dalam sejarah peradaban manusia, wabah-wabah mengerikan yang mengancam kelangsungan kehidupan di muka bumi, senantiasa bisa dilewati. Karena itulah, penduduk bumi yang tahun 1960 hanya 3,5 miliar jiwa, kini telah naik lebih dua kali lipat jadi 7,5 miliar, bahkan diramalkan di akhir abad ini menjadi 11 miliar jiwa!

Jadi, percayalah, virus Corona yang menimbulkan kepanikan dunia ini pun akan segera berlalu.

Saya percaya, laboratorium-laboratorium kesehatan besar di berbagai belahan dunia kini tengah berkutat dengan contoh-contoh virus Corona untuk menemukan vaksin dan obat untuk menjinakkannya.

Contohnya, gabungan 20 ahli dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), perusahaan farmasi Inovio dari Amerika Serikat dan University of Queensland di Australia yang tengah berkejaran dengan waktu mengupayakan vaksin anti-Coronavirus hari-hari ini.

Komentar

Rekomendasi

Hei Tuan, Moderasi itu Sehat!

Surga Dunia ala Prof Yudian Wahyudi

Radiasi Nuklir di Serpong

Saat Penumpang Kapal Cruise Stress

Dukungan Hastag

Konstruksi Sistem Pendidikan Nasional

Dalam Lift

Intoleransi Agama dan Ras

Nendang Kenangan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar