KLHK Hadir di Danau Tempe, Danau Air Tawar Terbesar di Bagian Tengah Daratan Sulawesi Selatan

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan
Tim Identifikasi dari KLHK bersama Camat Panca Lautang, Kabupaten Sidrap (Foto : Hasnan)

Sidrap.Terkini.id – Danau Tempe memiliki manfaat yang sangat besar bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah berupa usaha perikanan dan budidaya pertanian, namun juga menjadi sarana transportasi, sumber air dan obyek ekowisata alam.

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Jeneberang Saddang bersama tim dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sulawesi dan Maluku melaksanakan identifikasi dan analisis usaha kerusakan Danau Tempe di wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Soppeng di awal bulan Agustus 2020. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sidrap juga turut mendampingi tim identifikasi di Danau Tempe. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui aktivitas masyarakat yang memanfaatkan Danau Tempe dengan segala potensi dan permasalahannya.

Salah satu lokasi yang dikunjungi oleh tim identifikasi adalah Lingkungan Orai Salo, Kelurahan Wetteé, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap. Hasil Identifikasi memperlihatkan sebagian besar masyarakat yang bermukim di tepian Danau Tempe umumnya berprofesi sebagai nelayan tangkap dengan ketergantungan yang cukup tinggi terhadap danau tersebut. Beberapa nelayan pun memiliki aktivitas sebagai buruh tani pada saat Danau Tempe sedang surut di musim kemarau.

Penulis bersama Camat Panca Lautang Muh. Basri, S.Pi., M.Si (Foto : Hasnan)

Camat Panca Lautang Muhammad Basri, S.Pi., M.Si yang hadir mendampingi tim identifikasi mengatakan  bahwa Danau Tempe merupakan sumber mata pencaharian pokok yang bermukim di wilayahnya, “Masyarakat kami pak sebagian besar hidup dari keberadaan Danau Tempe, namun beberapa tahun terakhir produktivitasnya terus menurun” ujarnya.

Menurunnya produktivitas Danau Tempe menurutnya disebabkan oleh semakin meningkatnya populasi ikan Sapu-sapu (Glyptoperichthys gibbiceps) yang menginvasi Danau Tempe dalam 5 tahun terakhir. Ikan yang memiliki habitat asli di Sungai Amazon Brazil ini tidak diketahui siapa yang memasukkan ikan tersebut ke Danau Tempe.

Menarik untuk Anda:

“Ikan Sapu-sapu ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat kami karena dapat merusak lanra (jaring) nelayan, ikan ini juga tidak memiliki nilai ekonomis dan belum dimanfaatkan oleh warga kami” ujar Alumni Perikanan Universitas Muslim Indonesia Makassar ini.

Dari hasil identifikasi, selain invasi ikan sapu-sapu gangguan terhadap Danau Tempe juga disebabkan oleh melimpahnya Ecenggondok (Eichhornia crassipes), masuknya sampah plastik, sedimentasi, penggunaan pestisida dan pupuk yang berlebihan dari aktivitas budidaya pertanian disekitarnya.

Basri lebih lanjut mengatakan bahwa kurang lebih ada 20 sungai dan anak sungai yang bermuara di Danau Tempe. Setiap tahunnya membawa sedimen dari hulu DAS Bila dan DAS Wallanae yang bermuara di Danau Tempe sehingga semakin dangkal.

“Luas genangan normal Danau Tempe sekitar 20.000 ha. Akan tetapi akibat adanya sedimentasi, di musim kemarau luas genangan menyusut hingga di bawah 1.000 ha. Sedangkan di musim penghujan airnya meluap, menyatu dengan permukaan air Danau Sidenreng dengan luasan melebihi 35.000 ha” ujarnya.

Wawancara Penulis dengan Warga (Foto : Hasnan)
Basri sangat berharap, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat melakukan pendampingan melalui program alih usaha, studi banding pemanfaatan ecenggondok serta bimbingan teknis agar usaha ekonomi produktif masyarakat terus berkembang agar kelestarian danau Tempe terjaga. “Kami sangat mendukung alih usaha tani sekitar danau, program ini sangat baik demi kelestarian fungsi Danau Tempe untuk kesejahteraan masyarakat.

“Kami juga sangat berharap ada penyuluhan, kampanye penyelamatan Danau serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Danau Tempe, kehadiran KLHK sangat kami nantikan untuk penyelamatan dan kelestarian Danau Tempe” Ujarnya lebih lanjut.

Di tempat yang sama Hastina Lurah Wetteé mengatakan bahwa pada bulan Juli 2020 yang lalu telah terjadi banjir di wilayahnya yang merendam 105 unit rumah dan 155 hektare sawah yang sudah ditanami warganya. Hingga berita ini ditulis, Danau Tempe dan Danau Sidenreng di sebelahnya menjadi satu genangan. “Banjir tersebut menjadi langganan warga kami setiap tahunnya di musim penghujan” ujar Hastina.

Syamsul Ketua Kelompok Nelayan Sipakalebbi di Danau Tempe Sidrap juga berharap kehadiran Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Bantuan perahu, modal dan pengolahan eceng gondok menjadi barang yang bermanfaat sangat kami butuhkan” ujarnya.

Tentang Danau Tempe

Pulau Sulawesi termasuk kawasan Wallacea yang merupakan peralihan antara zoogeografi Oriental dan Australia. Banyak terdapat jenis flora dan fauna endemik, termasuk ikan dan burung.  Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perbedaan geografis yang ekstrim dapat berpengaruh terhadap susunan komunitas ikan dan burung air yang ada di perairan darat tersebut.

World Bank mencatat, keanekaragaman ikan air tawar di Indonesia adalah yang tertinggi kedua setelah Brazil, yaitu sebanyak 1300 jenis. Keanekaragaman ikan di Indonesia saat ini menghadapi ancaman dari berbagai aktivitas manusia yang dapat menyebabkan menurunnya keanekaragaman ikan-ikan tersebut. Dari 87 jenis ikan Indonesia yang terancam punah, diketahui 66 spesies (75%) diantaranya adalah ikan air tawar.  Sebagian besar (68%) dari ikan air tawar yang terancam punah ini adalah ikan endemik.

Di Sulawesi, telah tercatat ikan air tawar sebanyak 62 jenis dan diantaranya merupakan jenis endemik. Menurut Reid and Miller (1989) menurunnya stok ikan air tawar sebagian besar disebabkan oleh kerusakan/lenyapnya habitat (35%), introduksi spesies eksotik (30%), dan eksploitasi spesies yang berlebihan (4%). Sisanya (31%), karena pencemaran, persaingan penggunaan air dan perubahan iklim (climate change).

Hasil pengamatan langsung, dari tangkapan nelayan ada 12 jenis ikan bernilai ekonomi yang umum ditemui di Danau Tempe. Jenisnya yaitu Kandea (Puntius javanicus), Bungo (Glossogobius c.f. aureus), Nila (Oreochromis niloticus), Mujair (O. mossambicus), Doyok (Osteochillus hasselti), Cambang (Trichogaster pectoralis), Kanjilo (Channa striata), Lapuso (Oxyeleotris marmorata), Patin (Pangasius hypophthalmus), Mas (Cyprinus carpio), Lele (Clarias batrachus) dan Oseng (Anabas testudineus). Sementara ikan yang semakin sulit ditemui akhir-akhir ini adalah ikan Biawang (Helostoma teminckii) yang belum diketahui penyebabnya.

Danau Tempe terletak pada 3 wilayah kabupaten yakni Kabupeten Sidrap, Soppeng dan Wajo di Provinsi Sulawesi Selatan. Bagian utara 2.300 ha termasuk wilayah Sidrap ±10% dari seluruh luas danau, bagian Selatan (3.000 ha) termasuk wilayah Soppeng ±15%, dan bagian timur (9.445 ha) termasuk wilayah Kabupaten Wajo ±75% dari seluruh luas danau. Sungai besar yang masuk ke danau ini adalah Sungai Bila dan Sungai Wallanae.

Pada saat normal Danau Tempe luasnya 10.000 ha, pada musim hujan mencapai luas maksimum 30.000 ha, sedang pada musim kemarau mencapai minimum luas 1.000 ha. Kedalaman dan luas Danau Tempe cenderung terus menurun. Hal ini diduga karena pendangkalan akibat sedimentasi yang terjadi pada musim hujan. Fluktuasi luasan perairan, secara tidak langsung mendukung tingginya produksi perikanan di Danau Tempe. Penggenangan daerah tersebut pada awal musim hujan, akan membawa nutrien bagi anakan ikan sebagai sumber pakannya.

Diduga telah terjadi penurunan jumlah jenis (biodiversity), produksi ikan dan distribusi yang tidak merata di perairan Danau Tempe. Hal ini karena adanya proses penggenangan dan penyurutan perairan dan penangkapan ikan yang intensif serta menurunnya kualitas perairan/habitat.

Penurunan kualitas perairan karena masuknya sampah plastik, pestisida dan pupuk ke danau pada musim air tinggi yang disebabkan sedimen terbawa oleh Sungai Bila dan Wallanae ke dalam danau. Informasi faktor biologi dan ekologi yang penting dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan adalah keadaan populasi sumberdaya tersebut dan distribusinya.

Untuk menuju Danau Tempe, akses jalannya tidaklah sulit. Pengunjung harus memiliki banyak waktu, karena faktor jarak yang cukup jauh. Dari Kota Makassar via Pare-pare diperlukan waktu 5-6 jam untuk sampai di Lingkungan Orai Salo, Kelurahan Wetteé, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap.

Sebagai obyek wisata alam yang sangat menarik, tidak ada jam operasional khusus jam buka tutup di lokasi ini. Kapan pun waktunya bisa Anda lakukan. Pengunjung pun tidak perlu membayar tiket, tidak ada pungutan masuk. Jika ingin berkeliling danau, pengunjung bisa menyewa katinting (perahu bermotor) milik masyarakat setempat dengan biaya antara 50-100 ribu Rupiah. Menghilangkan penat melalui lake healing atau sightseeing dapat Anda lakukan di danau terluas dibagian tengah Provinsi Sulawesi Selatan ini. (MT)

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Anggota Komisi V DPR RI, Sarce Bandaso Ucapkan Selamat Berkonfercab II DPC GMNI Tana Toraja

57 Orang Diamankan Petugas, Pelaku Diancam Pidana Berlapis

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar