Komunikasi Digital dan Sosial Distancing di Tengah Pandemi Virus Corona

Rapat koordinasi jelang penerapan PSBB kabupaten Gowa / ist

VIRUS corona merupakan wabah penyakit yang kini telah menjangkit secara global di belahan dunia.

Virus yang pertama kali menyerang negara cina ini, terus menular dengan sangat cepat dan telah menular ke beberapa negara lain bahkan antar benua, termasuk Indonesia.

Hal inilah yang membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan Lockdown dalam rangka untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran virus Corona.

Di Indonesia sendiri lockdown telah di terapkan di ibukota yakni Jakarta dan beberapa daerah lainnya termasuk daerah yang merupakan Zona Merah.

Dalam menghadapi pandemi ini, salah satu upaya massive yang dilakukan di kalangan masyarakat adalah social distancing atau menjaga jarak, dengan memanfaatkan komunikasi digital untuk tetap menjalankan kehidupan sosial.

Menarik untuk Anda:

Anak sekolahan, belajar dari rumah atau school from home (SFH), dunia perkuliahan dialihkan ke sistem daring, begitu juga dengan banyak pekerja yang dirumahkan atau work from home (WFH).

Komunikasi digital menjadi solusi dari social distancing, untuk tetap melakukan komunikasi dengan memanfaatkan aplikasi yang tersedia, bahkan berbelanja atau transaksi secara daring dengan memanfaatkan beberapa platform digital sudah menjadi kebutuhan dan jalan utama.

Derasnya informasi dan perbincangan publik di media sosial itu dibuktikan dengan kata “virus corona” atau “Covid-19” yang kerap menempati kata populer di media sosial.

Walaupun tanpa kita sadari komunikasi digital telah terealisasikan sebelum adanya pandemi ini, Saat belum terjadi wabah pandemik Covid-19, kita seringkali disibukkan dengan aktivitas melalui komunikasi sosial yang di mana komunikasi dilakukan tidak harus tatap muka.

Artinya masyarakat tetap bisa melakukan interaksi sosial dengan menggunakan teknologi komunikasi, terutama media sosial.

Media sosial yang dimaksud diantaranya tik tok, twitter, facebook, instagram, line, dan whatsapp. dan beberapa media sosial lainnya yang digunakan untuk pemasaran, pembelajaran bahkan interaksi.

Dan kini menjadi lebih massive di tengah pandemi virus corona.

Menurut Stephen W. Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication (Sendjaja, 2014), terdapat tiga pendekatan dalam berkomunikasi antarmanusia.

Yang pertama adalah Pendekatan scientific (ilmiah-empiris). Umumnya, pendekatan ini berlaku di kalangan ahli ilmu eksakta.

Cara pandang yang menekankan unsur objektivitas dan pemisahan antara known (objek yang ingin diketahui dan diteliti) serta knower (subjek pelaku atau pengamat).

Lalu, ada Pendekatan Humanistic (Humaniora Interpretatif). Ini merupakan pendekatan dengan cara pandang yang mengasosiasikan dengan prinsip subjektivitas. Manusia mengamati sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya , membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang-orang di lingkungannya.

Yang ketiga adalah Pendekatan Social Sciences (Ilmu Sosial). Ini merupakan gabungan dari pendekatan scientific dan humanistic di mana objek studinya adalah kehidupan manusia, termasuk di dalamnya memahami tingkah laku manusia.

Tampak jelas bahwa, secara ideal komunikasi sosial dengan bertemu langsung atau tatap muka merupakan cara komunikasi yang humanis untuk diterapkan.

Namun kita juga perlu melakukan strategi komunikasi untuk tetap bertahan dalam kehidupan sosial, kemajuan era dengan power digital menuntut kita untuk memanfaatkannya bahkan sebelum pandemik ini terjadi.

Irnawati, S.Sos., M.I.Kom

Dosen Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Pulang Kampung di Saat Pilkada

Santri Sebagai Agen Perubahan

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar