Masuk

Kritisi Kebijakan PCR, Adhie Massardi: Zaman Belanda Obat Beri-beri Dibagi Gratis, Era Jokowi Kok PCR Dijual Mahal ke Rakyat

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M. Massardi kembali mengkritisi kebijakan tes PCR.

Lewat akun media sosialnya, Adhie Massardi membandingkan kondisi saat Nusantara mengalami wabah penyakit di era  Belanda dan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, Indonesia memang sudah merdeka dari segala bentuk penjajahan atas negara lain. Namun disebutkan bahwa pada era penjajahan ternyata menyisakan cerita menarik tentang kepedulian penguasa pada rakyat.

Baca Juga: Cody Gakpo Tampil Gemilang, Masuk Dalam Deretan Nama Top Skor Sementara Piala Dunia 2022

Seperti di tahun 1880-an, saat itu Hindia Belanda pernah dilanda wabah beri-beri. Di tengah wabah tersebut, Belanda kemudian mengirim Dr. Christiaan Eijkman ke Batavia untuk menemukan obat dari penyakit tersebut.

“Temuan vitamin B, obat beri-beri dibagi ke pribumi cuma-cuma,” kata Adhie melalui akun Twitternya, mengutip Berita Politik RMOL, Minggu 21 November 2021. 

Menurut Adhie, kondisi di era penjajahan itu berbanding terbalik saat Indonesia sedang mengalami pandemi Covid-19. 

Baca Juga: Heboh, Pernyataan Jokowi Seputar Pemimpin Rambut Putih, Denny Siregar: Bukan Ganjar, Bapak Rambutnya Hitam

Dia menyebutkan bahwa penetapan harga tes untuk mendeteksi adanya virus tersebut dalam tubuh dibanderol dengan harga mahal di awal pandemi. Padahal kini tes PCR tersebut hanya dipatok dengan harga di bawah Rp 300 ribu.

“ini rezim Widodo kok malah jual mahal PCR pada rakyat. Kalah baik sm Belanda penjajah,” ujarnya.