Masuk

Kunjungi Ponpes Darul Arqam Gombara, Anis Matta: Pesantren Harus Beradaptasi dengan Teknologi Digital

Komentar

Terkini.id, Makassar – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengunjungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam, Gombara, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam, Gombara ini, tak asing lagi bagi Anis Matta.

Pasalnya, di pondok pesantren tersebut Anis Matta menimba ilmu agama selama enam tahun dan menjadi alumni pada 1986.

Baca Juga: Pesantren Darul Aman Gombara Raih Juara 1 dan 2 di Olimpiade Bahasa Arab ke-5 Tingkat Sulsel

Anis mengatakan, kunjungan silaturahminya ke Ponpes Muhammadiyah Darul Arqam menjadi kerinduan tersendiri kepada teman-teman satu angkatan dan para guru-gurunya.

Bahkan, kata Anis Matta, setiap kali ke Makassar, ia selalu menyempatkan diri datang ke Gombara untuk bertemu guru-gurunya.

“Peran para guru itu lebih banyak membangun motivasi atau sebagai motivator, ketimbang sekadar mengajar materi pelajaran,” kata Anis Matta dalam siaran persnya, Minggu, 6 September 2020.

Baca Juga: Miing Sebut Lebih Penting Bangun Pemikiran daripada Jalan Tol, Denny Siregar Sindir: Sudah Setua Ini Masih Lucu Aja

“Tempat ini dulu terpencil dan sepi. Kita belajar di bawah pohon, tapi kami selalu tersambung dengan cita-cita besar, karena guru kami dulu semuanya motivator,” sambungnya.

Oleh karenanya, Anis Matta selalu mengingat jasa-jasa gurunya tersebut yang telah menjadikannya sebagai seorang motivator, menjadikan Indonesia kekuatan lima besar dunia.

Ia pun sangat berkesan terhadap foto KH Abdul Jabbar Ashiri, saat berkesempatan berkeliling melihat foto-foto kenangan di pesantren itu.

KH Abdul Jabbar Ashiri merupakan guru Anis Matta saat mondok.

Baca Juga: Ungkap Alasan Pilih Gabung Partai Gelora, Miing Bagito: Tidak Suka Terkungkung Dalam Feodalism

“Beliau guru saya. Saya selalu berdoa untuk beliau (KH. Abdul Jabbar Ashiri, red) yang telah mendedikasikan diri dalam membangun pesantren ini,” katanya.

Namun menurutnya, membangun pesantren dahulu dengan sekarang dan kedepan memiliki perbedaan signifikan.

“Tantangan besar yang akan dihadapi dunia pesantren ke depan dalam menghadapi kemajuan teknologi digital. Semua orang bisa mengakses ilmu pengetahuan secara mandiri,” katanya.

Anis Matta berharap dunia pesantren harus bisa segera beradaptasi tanpa menghilangkan nilai-nilai keunggulan pesantren dalam membentuk generasi Islam unggul, berdaya saing dan berakhlak mulia.

“Dalam situasi kemudahan akses pengetahuan di era digital ini, maka peran guru seharusnya lebih kuat sebagai motivator atau mengajari murid bagaimana belajar,” ujarnya.

Selain Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam, Anis Matta juga mengunjungi pesantren lainnya tempat dia menimba ilmu agama di Makassar, yakni Pesantren Darul Aman.

Di Darul Man, Anis bertemu dengan KH Abdul Djalil Thahir, salah seorang gurunya yang masih hidup yang juga merupakan salah satu pendiri pesantren tersebut.

Abdul Djalil Thahir dikenal sebagai yang berpengaruh terhadap pembentukan hati dan jiwa Anis Matta.

“Saya sudah melihat jiwa pemimpin anak ini (Anis Matta red), bukan hanya cerdas tapì juga pemberani dia. Dia pernah pimpin temannya demo saya,” ujar KH Abdul Djalil Thahir sambil mengenang saat menjadi guru Anis Matta.