“Itu adalah langkah-langkah utama pencegahan DBD,” tegas Reisa.
Langkah lain yang praktis yaitu jangan menggantung pakaian bekas pakai yang berpotensi menjadi tempat bersembunyi nyamuk DBD di dalam rumah.
“Nah, kebiasaan baru yang mengharuskan kita untuk membersihkan diri setelah sampai di rumah, sekaligus memastikan pakaian yang kita pakai setelah aktivitas langsung dicuci,”bebernya.
“Sejalan dengan pesan pemerintah untuk memberantas COVID-19, sekaligus dapat mencegah DBD,” sambungnya.
Lebih lanjut, Reisa meminta warga untuk berkoordinasi dengan pihak pengelola lingkungan dalam upaya pemberantasan nyamuk di pemukiman.
- Dealer Maluku Graha Motor Perkuat Silaturahmi dengan Komunitas Honda CRF di Ambon
- Komunitas Honda CBR Ambon City Rolling, Utamakan Keselamatan dan Semangat Cari Aman
- BPBD Jeneponto Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Dua Kecamatan
- Touring Merah Putih Asmo Sulsel Perkuat Sinergi Ekosistem Honda di Pinrang
- Soundrenaline 'Sana Sini di Makassar' Melanjutkan Perayaan Musik-Seni-Komunitas dari Jakarta
“Ya terutama, dimulai dari rumah Anda sendiri. Dalam adaptasi kebiasaan baru di mana kita menjalani kebijakan pengaturan waktu kerja, penggiliran hari kerja, pergantian hari berkantor, dan bisa bekerja dari rumah atau work from home, memberikan kita waktu untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar rumah kita,” urainya.
Sementara itu, ia juga menyampaikan ciri-ciri gejala DBD.
Menurutnya, gejala DBD tidak langsung muncul. Seseorang baru merasakan gejala pada 4 hingga 10 hari setelah digigit nyamuk bervirus dengue.
Gejala paling umum yaitu demam tinggi hingga 40 derajat celcius.
Gejala lain berupa sakit kepala, nyeri tulang, nyeri otot, mual, muncul bintik merah di kulit hingga pendarahan pada hidung dan gusi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
