Mahasiswa UI Sebut Integrasi Transjakata jadi Moda Transportasi Pro Gender di Era Anies

Mahasiswa UI Sebut Integrasi Transjakata jadi Moda Transportasi Pro Gender di Era Anies

R
Ismail
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Moda transportasi massal Transjakarta atau seringkali disebut Busway merupakan sarana transportasi kebanggaan warga Jakarta. 

Buktinya, sistem yang pertama kali beroperasi pada era Bang Yos pada tahun 2004 itu telah digunakan oleh 1 juta pelanggan per harinya pada awal 2020 silam.

Dari jumlah pelanggan saja sudah menunjukkan kenaikan signifikan. Jika di akhir 2017, pelanggan rata-rata harian berkisar di angka 350 ribu, maka kenaikan menjadi 1 juta itu menunjukkan bahwa publik makin mencintai pelayanan yang disediakan oleh Transjakarta. 

Memang betul penumpang sempat turun pada awal pandemi Covid19. Namun di akhir Anies menjabat, jumlah pelanggan sudah naik lagi mencapai 806.158 jiwa.

Mahasiswa Pascasarjana FISIP UI, Sri Nani menyebut kenaikan jumlah pelanggan transjakarta disebabkan keberhasilan program integrasi Transjakarta yang digagas oleh Anies Baswedan.

“Dengan integrasi, sarana Transjakarta yang dahulunya terdiri dari bus-bus berukuran besar yang hanya melayani rute-rute elit di jalan protokol ibukota, namun sekarang sudah tersambung dengan sarana bus kecil, atau yang dahulu disebut angkot yang sanggup menjangkau jalan-jalan pelosok semisal di Cilincing, Rorotan, Cilangkap maupun wilayah perbatasan lainnya,” jelasnya.

Sri Nani juga mengapresiasi angkot yang tergabung dalam program Mikrotrans Jak Lingko ini sebab angkot-angkot yang terpilih melalui proses seleksi yang ketat oleh manajemen Transjakarta, sehingga memiliki standar pelayanan yang baik.

Sri Nani menyebut jika sebelumnya mayoritas pengguna Transjakarta adalah pekerja formal berpenampilan parlente di wilayah Sudirman, Thamrin, Rasuna Said maupun Gatot Subroto, yang tentu saja sudah terbayang kelas sosial ekonominya. 

Sri melanjutkan, sejak mikrotrans Jak Lingko hadir, maka kalangan pelajar pendidikan dasar, ibu-ibu yang pergi ke pasar tradisional hingga pekerja informal pun dapat menikmati layanan. 

“Dengan kata lain, inilah pengejawantahan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di sektor transportasi. Tak melulu sektor pekerja kantoran yang menikmati subsidi, tetapi juga segala tingkatan sosial masyarakat yang hidup dan beraktifitas di ibukota pun merasakannya,” tambahnya.

Dirinya juga menunjukkan fakta lain bahwa gangguan keamanan juga hampir tak pernah terjadi di pelayanan ini. 

“Para pengamen, hingga pedagang asongan enggan menargetkan penumpang mikrotrans karena selain pengawasan yang ketat, juga karena sistem pembayarannya non tunai”

“Saya pun belum terbayang apakah ke depannya para pengamen itu menyiasati dengan menyediakan QRIS ataupun dompet digital untuk kelangsungan usahanya,”

(*)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.