Makassar Terkini
Masuk

Nilai Anies Miskin Prestasi Selama Lima Tahun Menjabat Jadi Gubernur DKI, Pengamat: Tidak Jelas di Zaman Pak Anies

Terkini.id, Jakarta – Pengamat politik Lucius Karus memberikan komentarnya terkait sepak terjang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang telah menjabat selama lima tahun.

Anies pun dinilai menjadi Gubernur yang miskin prestasi mengingat sejumlah program ketika kampanye tidak jadi terealisasi.

Rumah DP 0 Rupiah pun menjadi salah satu sorotan yang dinilai Lucius Karus tidak terealisasi dengan baik oleh Anies.

Realisasi rumah tersebut pun tidak mencapai 1.000 unit dari 250.000 rumah yang dijanjikan oleh Anies.

Kemudian Lucius juga menyoroti pembenahan kali di Jakarta yang menurutnya tidak ada juntrungannya.

“Kemudian terkait pembenahan kali di Jakarta untuk melanjutkan proyek normalisasi itu juga jadi tidak jelas di zaman Pak Anies,” ujarnya dilansir dari Tribun Jakarta, Senin 20 Juni 2022.

Lucius yang juga seorang peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) ini menyebutkan bahwa program yang berhasil direalisasikan oleh Anies hanya Formula E.

Namun polemik tetap saja hadir setelah program yang menghabiskan dana ratusan miliar tersebut terlaksana.

Sebab balap mobil listrik ini tak tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI 2017-2022.

Malahan program yang telah tercatat di RPJMD gagal terealisasi seperti pembangunan tempat pengolahan sampah ITF Sunter, rumah DP 0 rupiah hingga naturalisasi sungai.

“Jadi saya kira ada hal positif tapi lebih banyak hal negatif terutama terkait program yang dijanjikan saat pemilu tetapi kemudian tidak bisa direalisasikan saat menjabat,” ucapnya.

Lucius pun sangat menyayangkan hal tersebut mengingat DKI Jakarta mencatatkan anggara APBD yang sangat besar.

“Anggaran DKI begitu besar, tapi outputnya tidak semua bisa terwujud,” lanjutnya.

Lucius pun melayangkan kritikannya perihal pencitraan yang sering dilakukan alih-alih menyelesaikan permasalahan yang ada jelang lengser dari jabatan.

“Program yang dikerjakan Anies cenderung sebagai pencitraan politik ketimbang memastikan kualitas program itu bisa dipertanggungjawabkan. Banyak program tidak bisa dikerjakan tapi dengan gimmick politiknya dia bisa dengan mudah memperdayai publik untuk menunjukkan dia masih tetap bekerja,” bebernya.