Terkini, Makassar — Gagasan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menjadikan Makassar sebagai Kota Filantropi Nasional mendapat dukungan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia.
Dukungan tersebut disampaikan salah satu pimpinan BAZNAS RI, Hj. Saidah Sakwan, saat bertemu Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Rabu (23/9/2026).
Saidah menyambut positif gagasan tersebut dan mendorong agar konsep Kota Filantropi tidak berhenti sebagai slogan atau kegiatan seremonial, tetapi diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang melibatkan masyarakat hingga tingkat kelurahan.
“Kami sambut baik gagasan ini. Wali Kota Pak Munafri yang menggagas Makassar sebagai Kota Filantropi Nasional,” ujar Saidah.
Menurut Saidah, BAZNAS RI bersama BAZNAS Kota Makassar telah melakukan pembahasan awal untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam program yang lebih konkret.
- Perusahaan Tambang Garap Lahan Bersertifikat SHM Warga di Lutim, PT CLM dan PT PDS Disoroti DPRD
- Soto Betawi Veteran Selatan, Racikan Keluarga yang Jadi Favorit Warga Makassar Meraih MFC Award 2026
- Listrik Gowa Berpotensi Padam Malam Ini, Berikut Daftar Wilayah yang Terdampak
- KPPU Dorong Persaingan Usaha Sehat dan Kemitraan Setara di Maluku
- Pelindo Regional 4 Perkuat Sinergi Stakeholder Bahas Transformasi dan Streamlining
Tahapan selanjutnya, kata dia, adalah mempercepat persiapan melalui rangkaian program Road to Philanthropy City yang ditargetkan diluncurkan pada November 2026.
“Kita saling mendukung gagasan, segera dieksekusi saja. Kita bikin Road to Philanthropy City. Rencananya akan di-launching November,” katanya.
UPZ hingga Kelurahan
Saidah mengatakan, salah satu fondasi penting dalam membangun Kota Filantropi adalah penguatan kelembagaan penghimpunan dan pengelolaan zakat hingga tingkat paling dekat dengan masyarakat.
Karena itu, BAZNAS RI mendorong pembentukan dan penguatan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) tidak hanya di tingkat kota, tetapi juga kecamatan dan kelurahan.
“Kita dorong BAZNAS Makassar untuk membuat institusi di tingkat kota sampai tingkat kelurahan, yaitu UPZ. Di kecamatan dan kelurahan itu harus ada UPZ,” jelasnya.
Menurut dia, UPZ di tingkat kelurahan nantinya dapat menjadi instrumen untuk menggerakkan berbagai program filantropi di tengah masyarakat.
Dengan kelembagaan tersebut, program yang digagas pemerintah kota dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat di tingkat akar rumput.
“UPZ inilah yang nanti akan mengeksekusi program-program gerakan Pak Wali yang diluncurkan. Jadi bisa dieksekusi di tingkat paling akar rumput, di tingkat masyarakat,” ujarnya.
Saidah juga menilai gerakan filantropi perlu dibangun sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat, bukan hanya dilakukan pada momentum tertentu.
Untuk mewujudkannya, literasi filantropi perlu diperkuat sejak usia sekolah. Pelajar, kata dia, tidak hanya perlu mendapatkan pemahaman secara teori, tetapi juga pengalaman langsung dalam aktivitas sosial.
“Saya dorong membuat filantropi sebagai lifestyle. Caranya bagaimana? Membangun literasi,” katanya.
Ia mengusulkan agar pelajar diperkenalkan dengan konsep zakat, amil, dan mustahik sekaligus dilibatkan dalam kegiatan sosial.
“Anak-anak sekolah harus diajarkan untuk mengembangkan filantropi. Mereka kita literasi, kita ajari bagaimana menjadi amil, bagaimana bertemu mustahik. Mereka sendiri yang menyerahkan bantuan kepada mustahik,” tuturnya.
Menurut Saidah, keterlibatan langsung tersebut dapat membangun pengalaman dan keterikatan generasi muda terhadap gerakan filantropi.
Libatkan Perguruan Tinggi
Selain memperkuat gerakan di tingkat masyarakat, BAZNAS RI juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi di Makassar.
Saidah mengusulkan agar kampus-kampus dilibatkan dalam forum akademik atau konferensi untuk membahas konsep Kota Filantropi dari perspektif intelektual.
Menurutnya, perguruan tinggi dapat menjadi ruang untuk memperkaya gagasan sekaligus mengembangkan model Kota Filantropi yang sesuai dengan karakteristik Makassar.
“Saya minta bekerja sama dengan kampus untuk me-launching gagasan Pak Wali di tingkat perdebatan para intelektual,” imbuhnya.
Saidah juga mendorong Makassar menjadi prototipe atau model pengembangan gerakan filantropi yang dapat menjadi rujukan bagi daerah lain.
“Saya bilang sama Pak Ketua BAZNAS Makassar, yuk kita kembangkan Makassar ini menjadi prototipe itu,” katanya.
Appi: Harus Jadi Gerakan Bersama
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan gagasan Kota Filantropi Nasional harus dibangun sebagai gerakan bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, potensi masyarakat untuk berbagi sangat besar. Namun, potensi tersebut membutuhkan ekosistem dan kelembagaan yang mampu mempertemukan pihak yang ingin membantu dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan.
“Menurut saya gerakan filantropi tidak cukup jika hanya digerakkan oleh segelintir orang. Dibutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan potensi para dermawan dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan,” kata Munafri.
Ia menilai BAZNAS memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem tersebut, terutama melalui pengelolaan zakat dan dana sosial secara terorganisasi.
“Melalui kelembagaan BAZNAS untuk memberikan akses kepada para dermawan ini, kita mempersiapkan orang yang akan dibantu, mempertemukan orang yang membantu dan yang dibantu,” jelasnya.
Munafri juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan gerakan filantropi. Menurutnya, tata kelola yang jelas diperlukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
“Ini bisa menggunakan aturan negara, transparan dan akuntabel. Karena ini pemerintah yang mengelola itu,” katanya.
Bagi Munafri, konsep Kota Filantropi tidak semata-mata berkaitan dengan pengumpulan dan penyaluran dana sosial. Lebih jauh, gagasan tersebut diarahkan untuk membangun budaya saling membantu dan memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat perkotaan.
Ia menilai kemajuan sebuah kota tidak hanya tercermin dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk saling melindungi dan membantu.
“Kota yang maju bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya yang tinggi atau infrastrukturnya yang megah, tetapi dari sejauh mana warganya yang kuat melindungi yang lemah, dan yang berpunya peduli pada yang tidak berpunya,” tuturnya.
Munafri berharap gagasan tersebut dapat dikawal melalui tata kelola yang transparan dan akuntabel sehingga Makassar dapat menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan zakat dan filantropi.
“Kalau gagasan ini lahir, dikawal, serta dijalankan dengan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi, maka Makassar tidak hanya akan menjadi barometer nasional dalam pengelolaan zakat dan filantropi, tetapi juga akan menjadi kota yang diberkahi,” tutupnya.
Rangkaian persiapan menuju Kota Filantropi Nasional tersebut ditargetkan berlanjut hingga peluncuran pada November 2026, bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kota Makassar.
Dalam pertemuan tersebut turut hadir Ketua BAZNAS Makassar Dr. Usman Sofian, Kepala Dinas Sosial Kota Makassar Andi Bukti Djufrie, serta Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kota Makassar Mohammad Syarief. (*)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
