Manggung Saat Pandemi, Raja Dangdut Rhoma Irama Terancam Diproses Hukum

Raja Dangdut Rhoma Irama manggung di Bogor saat pandemi. (Foto: Detik)

Terkini.id, Bogor – Raja dangdut Rhoma Irama belum lama ini nekat manggung di acara sunatan Desa Cibunian Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor, Jawa Barat di tengah pandemi Covid-19.

Penanyi grup musik Soneta ini tampil di panggung acara tersebut di saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor masih menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara proporsional.

Dilansir dari kompascom, Kamis, 2 Juli 2020, Rhoma Irama kini terancam diproses secara hukum karena telah melanggar aturan Perbup Nomor 35 tahun 2020 tentang kegiatan yang mengumpulkan massa di suatu wilayah yang terinfeksi Covid-19 atau zona merah kecamatan.

Menanggapi hal itu, Rhoma pun menyampaikan bantahannya. Ia menyatakan bahwa dirinya hanya diundang oleh pihak penyelenggara untuk memberikan tausiyah dan disuruh menyanyikan beberapa lagu bersama sejumlah artis lain.

Dalam keterangannya, pelantun lagu “Begadang” ini merasa aneh lantaran hanya dirinya yang menjadi sasaran terkait permasalahan tersebut.

Menarik untuk Anda:

Padahal, kata Rhoma, saat ia tampil di panggung tersebut dirinya didampingi aparat kepolisian di lokasi.

Menurutnya, jika acara tersebut dilarang seharusnya sudah dibubarkan sejak sebelum berdirinya panggung.

Rhoma Irama berharap agar semua masalah ini dapat segera selesai dan pernyataan Bupati Bogor dia harapkan hanya sekedar bercanda.

Adapun jika nantinya diproses hukum, kata Rhoma, tentunya yang mengadakan acara ikut bertanggung jawab sehingga semuanya ikut diproses hukum juga.

Sementara itu, Kapolres Bogor Roland Rolandy menanggapi klaim Rhoma Irama yang menyebutkan ada aparat kepolisian yang mendampinginya saat manggung di acara tersebut.

Ia pun membantah adanya oknum kepolisian yang membekingi acara yang melibatkan Rhoma Irama itu.

“Itu masih kita periksa dulu, emang ada beking? saya rasa tidak ada,” kata Roland, Rabu, 1 Juli 2020 seperti dikutip dari tribunnewscom.

Menurutnya, pernyataan Rhoma Irama tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.

Pasalnya, kata Roland, sejak awal keberadaan anggota polisi di lokasi itu yakni untuk mengecek dan menerapkan protokol kesehatan.

“Jadi aparat ada di situ bukan beking tapi kita itu mengecek protokol kesehatan, memang pada awalnya protokol kesehatan itu dilakukan untuk khitanan dan itu kan juga sudah dijanjikan tapi pada saat itu, ternyata ada keramaian di akhir acara tersebut (Minggu),” terangnya.

Ia pun menjelaskan bahwa sehari sebelum Rhoma Irama tampil di acara tersebut, masyarakat tidak ramai mendatangi khitanan itu.

“Justru di hari kedua saat Rhoma Irama tampil itulah terjadi kerumunan,” ujar Roland.

Lantaran hal itu, kata Roland, acara tersebut dinilai melanggar Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 35 tahun 2020 tentang pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) proporsional secara parsial sesuai kewaspadaan daerah.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Viral Cuitan Wanita Mengaku Gagal Lolos Akpol Gegara Dituding Positif Covid-19

Waspada Sindikat Penipu Oknum WNA Iran, Berikut Cara dan Modus Pelaku

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar